Aku seorang cowok guru muda berumur 24
tahun yang cukup beruntung dapat mengajar di-sekolah dasar swasta favorit. Bisa
dikatakan aku seorang guru yang baik, menurut para orang tua murid yang
menyekolahkan anak mereka di sekolah tempat aku mengajar. Kepala Sekolah dan
beberapa guru yang lebih senior sering mengakui kepandaianku dalam memberikan
pelajaran. Oleh karena itu beberapa orang tua murid meminta aku untuk memberi
tambahan pelajaran untuk anak mereka secara pribadi di rumah mereka. Tawaran
itu sepanjang memang waktunya tersedia aku layani, lumayan untuk pendapatan
tambahan. Kebijakan di-Sekolah memang membolehkan guru untuk memberi les untuk
murid dari kelas yang diajar oleh guru lain. Dalam banyak rumah yang aku
kunjungi, aku paling suka pergi ke rumah Jessica, seorang murid yang tinggal
di-Sektor IX Bintaro Jaya juga,kira-kira 2 km dari tempat kost-ku di-daerah
perigi.Dia murid kelas 2 dan seperti kebanyakan murid2 di-sekolahku lainnya ia
juga keturunan Cina. Bila giliran aku ke rumahnya,aku cukup bersemangat,karena
ibunya seorang wanita cantik.
Aku memanggilnya Ibu Rita. Umurnya
awal 30-an dan dia tidak bekerja. Suaminya seorang arsitek yang karirnya cukup
sukses diperusahaan swasta group Sinar Mas.Saat aku mengajar anaknya, dia tidak
menunggui tetapi akan masuk ke kamar atau sibuk di dapur. Memang aku kurang
suka ditunggui ketika sedang mengajar, bisa mengganggu konsentrasi.Lebih kurang
15 menit sebelum les selesai, ibu Rita biasanya akan keluar duduk di
sofa.Setelah selesai les,Jessica akan masuk ke kamar dan menyambung
belajar,sementara aku ngobrol dengan ibu Rita.Dari situlah aku tahu sedikit
tentang latar belakangnya.Sebagai informasi,aku memberi les dirumahnya waktu
malam, pukul 8.00 hingga 9.30.
Kadangkala suaminya ada, kalau dia
pulang cepat. Hubungan aku dengan mereka bisa dikatakan baik.Mereka suami
isteri yang menyenangkan.Saat imlek,aku diberinya angpau.Salah satu sebab aku
menyenangi mereka adalah untuk membiasakan Jessica mereka menggunakan bahasa
Inggris sebagai alat komunikasi sehari2 dan aku bisa ikut latihan berbahasa
Inggris bersama mereka walaupun kadang2 masih campur dengan bahasa Indonesia.
Ibu Rita sewaktu dirumah gemar memakai celana pendek dan T-Shirt saja. Ini
membuat bentuk tubuhnya yang montok itu terpampang. Kadangkala aku mencuri
pandang keelokan wajah dan tubuhnya itu, hingga kemaluanku menegang. Aku sering
membayangkan untuk dapat bercinta dengannya. Rambutnya yang panjang dan lurus,
kulitnya yang putih, mulus dan bersih, dan tubuhnya yang montok serta pinggangnya
yang ramping itu membuat aku kadang-kadang gelisah kalau duduk berdekatan
dengannya. Itulah sebabnya, dibanding dengan murid-murid les lainnya, aku
paling semangat memberi les ke-Jessica karena berarti juga bertemu dengan Ibu
Rita.
Walaupun ia telah mempunyai seorang
anak yang berusia 8 tahun, badannya sangat terawat,bak perawan. Ibu Rita sangat
pandai menjaga tubuhnya.Pernah Ibu Rita memakai celana yang sangat pendek dan
T-Shirt ketat yang menampakkan perut dan pusarnya. Saat itu aku betul-betul
terangsang, sulit konsentrasi mengajar sebab mata mencuri-curi melirik ke arah
tubuhnya. Pulang ketempat kos,aku langsung ber-onani ria sambil membayangkan
bersetubuh dengannya. Hari berganti hari, tanpa terasa sudah hampir 9 bulan aku
mengajar anaknya. Hasil yang diperoleh memang baik, karena ia mendapat ranking
3 besar dikelasnya. Aku jelas bangga. Ibu Rita juga bangga dan mengucapkan
terima kasih kepadaku. Suaminya yang cukup ramah itu jika ketemu selalu
mengajak diskusi mengenai beberapa hal tetapi terutama yang berkaitan dengan
pekerjaannya sebagai arsitek atau proyek perumahan dimana dia terlibat.
Aku layani saja, walau hanya sedikit
tahu mengenai itu. Sebagai guru, cukup wajar kalau aku pandai bicara.Setelah
selesai evaluasi hasil belajar semester II, aku tetap diminta untuk memberi les
anak mereka lagi sampai liburan sekolah, katanya untuk persiapan tahun depan.
Aku setuju saja. Maka, mengajarlah aku sampai tiba libur kenaikan kelas.Minggu
ini minggu terakhir,setelah itu akan segera libur panjang. Malam itu seperti
biasa aku pergi ke rumah mereka buat memberi les terakhir sebelum libur.
Suaminya kebetulan ada. Habis mengajar, seperti biasa aku diberi sekedar
makanan kecil dan minuman pelepas dahaga. Ibu Rita dan juga suaminya menemaniku
duduk bersama ngobrol.
”Pak Vincent” sapa suami Ibu Rita
memulai perbicaraan.
”Ya” jawabku ringkas sambil menantikan
kata-katanya.
”Minggu depan saya mesti pergi
ke-Balikpapan. Ngurusin proyek” sambungnya.
”Wah, baguslah” jawabku.
”But the problem is, I must go there
one week”
”Then, What the problem you got”
jawabku.
”Nobody will be here to take care of
my family and as you know we don’t have pembantu rumah tangga, rasanya nggok
tega ninggalin Jessica dan mamanya hanya berdua terutama di-malam hari”
”You can call your saudara”
”I did, but they cannot help. They
have a lot of work to do” balasnya dengan wajah yang agak kesal.
”I hope you can help me” sambungnya.
“Tolong !!” aku terkejut dengan permintaan itu. “How”
”stay here at night”
”Haaa !!!” tersentak aku dengan
permintaannya.
“But next week libur, Saya punya
rencana pulang kampung”
”Just one week, please”
”Pak Vincent, you cuma datang malam,
sleep here. I got room for you. Then pagi, you can go anywhere you want” Ibu
Rita menyambung setelah lama diam membiarkan suaminya saja yang berbicara.
”You know, Saya tak ada orang lain
yang bisa Saya harap. This area is not good, a lot of empty houses around here
and we practically don’t have a neighbor. It’s must be a man in the house at
night. Nanti kalau saya pergi, tinggal my wife and my daughter only”
”Plese Pak Vincent, please think about
it” sambung Ibu Rita saat melihat aku hanya diam.
“I’ll pay you” kata suaminya.
“It’s not about money” balasku.
“Then ?””When will you go?” tanya aku.
”This Sunday, and I’ll be home next
Saturday” jawabnya penuh ceria.
Mungkin mengira aku sudah setuju. Aku
pikir-pikir ini bukan ide yang buruk, aku akan mendapat uang yang lumayan
disamping itu inilah peluang emas agar aku dapat lebih dekat dengan ibu Rita.
”O.K.lah” sambungku. “But just one
week”
”O.K…O.K….”balas mereka serentak
dengan senyuman.
“Thanks” sambung Ibu Rita sambil
tersenyum ke arahku. Aku tenang saja sambil meneguk air yang disuguhkan.
”This Sunday night saya datang” kataku
sambil berdiri hendak pulang.
“O.K. I will prepare your room”
balas Ibu Rita sambil mengikuti aku ke muka pintu.”saya pulang dulu”
“Thanks Pak Vincent” suaminya berkata
sambil berjabat tangan denganku.
“Thank you very much”Aku pun pulang ke
rumah. Malam itu, aku kewartel dan telpon kampung, aku bilang ada perubahan
rencana aku akan kursus dulu selama seminggu sehingga acara pulang kampung
sedikit tertunda.
Hari ini hari Jumat, hari terakhir
sekolah. Lusa aku akan ke rumah Ibu Rita menemani Ibu Rita dan Jessica.
Kawan-kawan sekostku pun yang kebetulan juga guru di sekolah yang sama, sudah
pulang ke kampung halaman masing-masing. Tinggal aku seorang diri, cukup
membosankan. Minggu malam aku akan tidur di rumah Ibu Rita. Aku memikirkan
rencana yang tidak-tidak seperti untuk mengintip Ibu Rita mandi, atau mengintip
saat Ibu Rita tidur. Inilah kesempatanku untuk menatap tubuhnya yang seksi itu
sepuasnya. Kalau saat aku mengajar, aku kurang berkesempatan, kalau aku tidur
di sana, aku tidak akan menyia-nyia-kan ini. Aku sangat berharap dapat
mengintip Ibu Rita mandi, atau paling tidak dapat melihatnya keluar dari kamar
mandi dengan hanya menutup badannya dengan handuk……Membayangkan itu, aku tidur
dalam keadaan ngaceng berat malam itu……..Minggu malam, jam menunjukkan pukul
10.30 malam, aku tiba di perkarangan rumah Ibu Rita dengan motor bebekku.
Suasana agak sunyi, hanya dari kejauhan anjing menggonggong sesekali memecah
kesunyian. Aku masuk, lalu aku rapatkan lagi pintu pagar itu sekaligus
menggemboknya. Aku sebelumnya memang telah diberitahu untuk langsung mengunci
pagar.Selesai mengunci pagar dan motor bebek, aku pun mengetuk pintu rumahnya.
Diam. Tak ada jawaban, aku ketuk lagi berulang kali, masih nggak ada suara.
Hatiku mulai waswas, jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi kepada mereka
berdua di dalam. Aku ketuk lagi, kali ini agak kuat.”Coming !!” aku dengar
suara Ibu Rita menyahut.Kemudian, pintu pun dibuka, ku lihat Ibu Rita seperti
yang aku bayang2kan yaitu hanya pakai handuk untuk menutup badannya.
Tapi handuk itu kelihatannya tidak
cukup untuk menutup badannya dengan sempurna. Pangkal buah dadanya yang putih
bersih itu tampak jelas saat dia tunduk membuka kunci. Pangkal pahanya yang
mulus juga tampak dengan jelas. Aku langsung ngaceng.
”Please coming” katanya. Aku pun masuk
dan sewaktu melintasinya, bau harum sabun masih tercium dari tubuhnya, aku
menoleh lagi ke belakang, Ibu Rita sedang menguncikan lagi pintu. Aku lihat
tubuhnya dari arah belakang, wow, pantatnya yang montok dan padat itu sekali
lagi membangkitkan nafsu aku. Pinggangnya yang ramping serta bentuk tubuhnya
yang menggiurkan itu sama sekali tidak menunjukkan dia sudah punya anak.
”Sorry, make you waiting” katanya
sambil berlalu. “Saya mandi tadi”
”It’s OK” balasku.
”Duduklah, Saya mau pakai baju dulu”
sambungnya sambil menuju ke tingkat atas. Mataku tidak lepas dari tubuh seksi
itu sampai hilang dari pandangan. Aku pun duduk di sofa, sambil membalik-balik
majalah yang ada di situ.Tak lama kemudian, Ibu Rita pun turun, lalu terus ke
dapur.Dia kembali ke ruang tamu dengan dua gelas air sirop di tangannya. Ibu
Rita mengenakan pakaian tidur warna pink yang agak transparan, hingga
menampakkan bayangan celana dalam dan bhnya.
Sesaat dia tunduk meletakkan air atas
meja, aku sempat mengerling ke arah buah dadanya, kelihatan pangkal buah
dadanya yang dibaluti bh berwarna hijau muda. Sekali lagi, kemaluan aku
mengeras.
”silahkan minum” katanya sambil duduk
berhadapan dengan aku.
”Thanks” aku menjawab sambil mengambil
air sirop yang terhidang itu.
”Terima kasih, karena Anda bersedia
datang” Ibu Rita membuka pembicaraan.
”Mana Jessica” tanyaku karena anak
tunggal itu dari tadi tidak kelihatan.
”Ohh…. dia sudah tidur” jawab Ibu Rita
”Jam segini sudah tidur ?” tanyaku
”Memang dia tidur awal, pukul 10.00
pasti saya suruh dia untuk tidur”
”Oooo …. like that” Kami terus
ngobrol, dari situlah aku tahu serba sedikit tentang keluarga ini. Sewaktu
ngobrol, aku tidak bosan-bosannya melihat keayuan wajahnya, matanya tak sesipit
orang Cina lainnya. Kulitnya putih dengan rambut ikal mayang, tambah pula
dengan bentuk tubuhnya yang ramping dan dadanya yang montok itu membuatkan aku
ingin segera memeluknya. Wangian tubuhnya memenuhi ruang tamu yang agak dingin
itu.
”Berapakah umur Anda” tanyanya setelah
sekian lama.
“24”, jawabku singkat.
”Sudah ada rencana menikah?”
”Belum”
”Jangan tunggu lama lama”
”Lelaki terlambat sedikit nggak
masalah””Hmmm ….”Aku terus diam, belum menemukan bahan pembicaraan lain. Dia
pun begitu. Aku baca majalah sambil sesekali ekor mata menelusuri tubuhnya.
”Mari saya tunjukkan kamar Anda”,
katanya sambil berdiri dan berjalan ke tingkat atas. Aku pun ikut seperti
kerbau dicocok hidung.Dari belakang, aku memerhatikan lenggok pantatnya menaiki
tangga. Rasanya mau aku remas pantat itu, tapi apa daya takut dikira kurang
ajar. Di tingkat atas, terdapat tiga kamar. Kamar depan, master room, kamar Ibu
Rita dan suaminya.
Kamar tengah, Jessica. “Berikut kamar
Anda” katanya sambil membukakan pintu kamar belakang. Sedikit kecil, dengan
kasur dan lemari yang tersusun rapi.
“I hope you like it”
“Yes, thank you” balasku.
“Saya mau tidur dulu,kalau Pak Vincent
mau lihat TV, Anda tahu bagaimana melakukannya. DVD pun ada. anggap saja rumah
sendiri” jelasnya sambil meninggalkan aku.
“OK thanks, Saya memang suka tidur
telat” balasku. Dia masuk ke kamarnya, aku turun lagi ke ruang tamu menonton
TV. Sambil aku membalik-balik majalah yang ada di situ.Mata semakin mengantuk,
kulihat jam menunjukkan pukul 2.30 pagi. Aku matikan TV lalu ke tingkat atas.
Saat melintasi kamar Ibu Rita, aku dapati pintunya tidak bertutup rapat. Timbul
niat di hati ku untuk melihat dia tidur. Pelan-lahan aku buka pintu, lalu masuk
ke dalam kamarnya. Ibu Rita sedang tidur nyenyak, menghadap ke arahku.
Aku menatap ke seluruh tubuhnya yang
sedang nyenyak tidur itu. Dasternya tersingkap sedikit,pangkal pahanya yang
mulus terpampang dengan jelas. Dadanya naik turun menghembus udara, bhnya sudah
dicopot. Aku tatap sepuasnya, sambil mengusap kemaluan. Aku dekatkan mukaku ke
arah wajahnya, wangian kulit dan rambutnya membuat aku terasa hendak mencium
pipi yang mulus itu. Agak lama aku buat begitu, rasanya aku mau terkam saja
wanita Cina itu. Tapi timbul kesadaranku, waktu masih banyak. Kalau terlalu
terburu-buru, takut justru rencana berantakan. Kemudian,aku keluar lalu menutup
pintu kamarnya. Aku masuk ke kamar lalu tidur, sebelum tidur aku sempat
membayangkan pemandangan tadi…….Sedang aku dibuai mimpi, pintu kamarku diketuk.
Kedengaran suara Ibu Rita menyuruh aku bangun, rupa-rupa sudah pagi.
Aku bangun, cuci muka dan
turun.Kelihatan Ibu Rita menunggu aku dengan dua cangkir teh di atas meja. Dia
masih berpakaian tidur. Aku minum lalu meminta diri untuk pulang. Di rumah aku
teruskan tidurku. Malam kedua. Seperti biasa, aku tutup dan kunci pagar rumahnya.
Saat pintu dibuka, Ibu Rita sudah berpakaian tidur sejenis daster,tetapi masih
harum bau parfumnya. Setelah itu, aku dipersilakan minum sambil kami ngobrol
ngalor ngidul sehingga mata mengantuk. Aku sempat bertanya mengapa saudaranya
enggan menemani mereka. Ibu Rita menjelaskan bahwa mereka terlalu sibuk dengan
urusan dan saudara dari fihak suami tidak begitu menyukainya. Aku hanya
menganggukkan kepala saja tanpa ingin mengetahui lebih lanjut.
”Pak Vincent, Saya mau tidur dulu”
katanya sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 11.30 malam.
”OK” balas ku ringkas.
Ibu Rita berlalu meninggalkan aku
sendirian di ruang tamu. Aku memerhatikan lenggak-lenggok pinggulnya yang
mengairahkan itu hingga hilang dari pandangan.
“Malam ini aku mau intip dia lagi,
kalau bisa mau pegang sedikit”, tekadku dalam hati.Aku masih di-ruang tamu
nonton TV. Sendirian. Sunyi. Tiba-tiba Ibu Rita turun dan terus ke dapur.
Ketika itu jam menunjukkan pukul 12.30 malam.”Mungkin haus” kata hatiku. Tak
lama kemudian, Ibu Rita kembali dan terus menaiki anak tangga.
Tiba-tiba …… “Auchhhh !!!! …….
Arrrgghhhh !!!!!” terdengar jeritan Ibu Rita di tangga. Aku lari kearahnya dan
dapati dia terjatuh di atas tangga sambil tangan memegang pergelangan kaki
kirinya.Mukanya berkerut menahan sakit.
“Why? What happened ?” tanyaku seraya
duduk di hadapannya.
“Saya terkilir”
“Mana yang sakit?” tanyaku. Dia
menunjukkan ke arah pergelangan kaki kirinya.
“Let me see” balasku sambil memegang
dan memijit-mijit pergelangan kaki mencari yang sakit. Dengan pengalaman saat
di-Pramuka, aku tau sedikit menangani hal seperti ini. Aku terus memijit dan
mengurut daerah pergelangan itu, sesekali dia menjerit kecil karena kesakitan.
“Bisa jalan?” aku tanya.
Ibu Rita tak menjawab, dia terus
bangun, coba untuk berdiri. Tetapi dia terduduk kembali. “Tak bisa” jawabnya
mengerutkan muka.
“Let me help you. I will take you up
stairs” balasku terus berdiri.
Ibu Rita setuju. Dia memegang
leherku dengan tangan kirinya. Aku memapahnya naik sambil tangan kananku melingkar
pinggangnya. Aku memapahnya pelan-lahan. Saat itu, aku sempat menyentuh
punggungnya dan aku tahu dia tak pakai bh. Aku teruskan langkah, tiba-tiba
kakinya tergelincir lagi. Dia hampir terjatuh. Aku segera menyambut dengan
melingkarkan kedua tanganku dibagian pinggangnya. Ibu Rita juga turut
bergantung di leher dan bahuku dengan kedua tangannya.
Kami hampir berpelukan. Ketika itu,
aku simpulkan Ibu Rita tak pakai celana dalam juga. “Mungkin kalau tidur dia
tak pernah pakai pakaian dalam” kataku dalam hati.Aku melambatkan langkah agar
dapat melingkari pinggangnya lebih lama. Dia kelihatan pasrah saja. Sampai di
kamarnya, aku masuk dan tutup pintu. Aku dudukkan Ibu Rita dengan bersandarkan
bantal. Kakinya kujulurkan.”Biar saya urut sedikit” kataku sambil tangan sudah
ada di pergelangan kakinya. Dia hanya menggangukkan kepala. Aku terus memijit
dan mengurut dengan pelan. Aku alurkan urutan dari atas ke bawah, hingga ke
jari kakinya. Agak lama aku mengurut sekitar daerah sakit itu.
”Masih Sakit?”
”Sudah kurang sedikit”Aku terus
mengurut. Aku semakin berani. Aku urut betisnya. Dia tak melarang. Sesekali
wajahnya berkerut menahan sakit. Aku teruskan mengurut, kini dasternya aku
singkapkan sedikit. Kemaluan aku sudah naik. Aku lihat Ibu Rita diam saja. Aku
semakin panas. Aku masukkan jari aku ke dalam dasternya. Aku mulai urut paha
hingga ke pangkalnya. Ibu Rita hanya mendesis kegelian.
Tak nampak tanda protes di wajahnya.
Kini, aku bukan mengurut, tapi meraba dan mengelus. Aku terus raba dan usap
pahanya hingga ke pangkal, sekaligus kedua-duanya. Matanya kelihatan terpejam,
sesekali mendesis mengerang dengan manja. Aku meraba semaunya, kesempatan
semacam ini jarang terjadi.
”Pinter ngurut juga ya” sapanya sambil
tersenyum. Aku terkejut, bersamaan dengan itu, aku melepaskan tanganku dari
pahanya. “Tolong pijit bahu dong” pintanya. Lega hatiku. Aku pikir dia mau
marah, rupa-rupanya mau aku pijit badannya. Ibu Rita bangun duduk dan
membelakangi aku.Aku letakkan kedua tapak tanganku di bahunya, aku pijit
lembut. Aku pijit dan urut sekitar bahunya dengan pelan.
Sesekali aku pijit pangkal lehernya
hingga ke bahu.”Mmmmm ….. mmmmm ……” suara rintihan Ibu Rita lembut
kedengaran.Aku terus mengurut, hingga ke bagian punggungnya. Aku alurkan jari
aku ke tengah punggungnya. Ibu Rita merintih manja. Sesekali aku arahkan
tanganku ke bawah ketiaknya hingga ke pangkal buah dadanya. Setelah itu, aku
urutkan lagi sekitar bahu dan lehernya.Rambutnya yang ikal itu aku belai serta
lehernya aku usapkan dengan lembut. Harum badannya menusuk hidung,
membangkitkan nafsuku.”Ahhh ….. mmmmmm ….”Aku sudah ngaceng berat. Batangku aku
tempelkan ketubuhnya, menusuk pantatnya. Aku tahu dia tahu, tapi tetap acuh.
Aku sudah tak tahan lagi.Aku coba arahkan tanganku ke pangkal buah dadanya
melalui atas. Sambil aku memijit-mijit bahu depannya, aku turun sedikit hingga
ke pangkal buah dada. Dari atas jelas kelihatan bayangan buah dada dalam baju
tidurnya yang agak jarang itu. Aku arahkan lagi tanganku ke bahu. Kemudian
turun lagi memegang buah dadanya. Sentuh saja sedikit, aku terus arahkan
kembali ke bahu.
Ternyata Ibu Rita tak melarang saat
aku menyentuh buah dadanya. Aku coba lagi. Aku sentuh lagi, kali ini agak lama.
Masih tidak menunjukkan respon negatif. Hanya kedengaran suara desisan manjanya
saja bila diperlakukan demikian. Aku coba lagi. Aku pegang dan remas buah
dadanya dengan lembut. Kali ini aku nekat, jari ku memilin putingnya.
“Hei ! jangan begitu” larangnya, tapi
suaranya tidak begitu kuat. Kelihatannya tidak sungguh-sungguh. Tapi aku terus
menarik tanganku dari dalam dasternya.
“You urut my whole body” pintanya
sambil meniarapkan badan.Sekujur tubuh yang seksi telungkup di hadapan ku.
Kemaluanku makin tegang. Dengan daster yang transparan itu, menampakkan seluruh
bentuk tubuhnya yang menggiurkan. Pantatnya yang montok, pinggangnya yang
ramping dengan kulitnya yang cerah membuatkan nafsuku bangkit.Tanpa buang
waktu, aku letakkan kedua tapak tanganku di bahunya. Lalu aku usap, aku urutkan
ke bawah. Punggungnya kuusap dan kugosok lembut. Pinggangnya aku pegang
sepuasnya, sambil aku pijit pelan. Ibu Rita meliuk kegelian sambil mendesis
lembut.
Kadang-kadang tanganku liar menjalar
sampai ke pantat montoknya, aku raba dan aku remas lembut, tapi Ibu Rita tidak
menunjukkan tanda marah. Kali ini aku terus meremas pantatnya yang dibaluti
daster, tetapi terasa kekenyalannya karena dia tak pakai celana dalam. Enak betul
meremas pantat bahenol wanita ini. Setelah agak lama aku mengurut dan meraba
badannya, aku coba untuk menarik dasternya ke bawah. Pelan-lahan sambil
mengurut, aku tarik dasternya ke bawah. Tanpa perlawanan, malah Ibu Rita
meluruskan tangannya untuk memudahkan daster itu ditarik. Seakan mendapat
angin, aku pun menarik daster hingga ke pantat. Terpampanglah bagian punggung
yang putih yang mulus itu. Sekali lagi tapak tangan aku menjalar ke seluruh
punggungnya.
Suara rintihan wanita Cina itu semakin terdengar.”Ahh ….. mmmm ….. mmmmm…..” Aku terus meraba badannya, hingga ke pantat aku remas dengan lembut. Kadang jari-jari aku terbebas masuk ke dalam dasternya, terasa akan kemulusan dan kemontokan pantatnya saat aku begitukan. Rintihan dan desisan manjanya itu membuatkan aku semakin berani, aku terus tarik dasternya ke kaki pelan-lahan. Tetap tak ada perlawanan, malah pantatnya diangkatnya sedikit agar mudah bagi aku melepaskan pakaiannya.Aku aku lemparkan pakaian itu ke sisi kasur. Wah, sekujur tubuh tanpa sehelai benang kini telungkup di hadapanku.
Jelas kelihatan bentuk tubuhnya yang
bohai yang telah lama aku impikan itu. Aku lihat mata Ibu Rita terpejam,
mungkin menanti tindakan berikuttnya dariku.Badannya yang mulus itu aku raba
dan urut dengan pelan atas ke bawah hingga melewati pinggangnya. Pantatnya yang
tidak dibaluti pakaian itu aku remas dengan lembut. Aku pijit-pijit, aku
remas-remas ke seluruh tubuh yang telanjang itu. Kemaluanku sudah keras sekali.
Aku tak tahan lagi, aku terus buka baju. Sambil aku meraba dan menggosok
seluruh tubuhnya, aku coba mendekatkan mulutku ke badannya, aku dapat menghirup
harum tubuhnya. Pelan-lahan bibirku nempel kebadannya. Kukecup dengan lembut.
Ibu Rita mendesis lembut. Aku kecup lagi, dan terus aku melarikan ciuman ke
seluruh punggungnya. Kadang-kala aku jilat sedikit.Aku arahkan mulutku hingga
ke pantat. Pantat itu aku cium dan aku kecup, sambil tangan meneruskan rabaan,
suara rintihannya makin jelas. Saat aku hendak mencium celah pantatnya,
tiba-tiba Ibu Rita bangun duduk dan menjuntaikan kakinya ke tepi kasur.
Aku terpaksa bangun dan berdiri di
atas karpet.Ibu Rita kini duduk menghadap aku dengan tubuh telanjang
memerhatikan aku yang berdiri dihadapannya sambil mengelus kemaluan yang
menegang dari luar celana training yang masih aku pakai. Aku dapat melihat
tubuhnya dari arah depan, dari buah dadanya yang besar dan padat itu, aku lihat
putingnya yang menegang. Putih, halus, mulus dan bagus sekali badannya. Ketika
aku masih ter-bengong-bengong, tiba-tiba tangan kanannya memegang kemaluanku.
Aku tersentak dan terus mundur sedikit ke belakang. Ibu Rita menarik celana
training aku kearahnya. Sekali lagi kemaluanku dipegang, aku tak bisa mengindar
lagi. Ibu Rita menggenggam batangku dan menggosok dengan lembut. Aku semakin
terangsang. Pelan-lahan dia menarik celanaku ke bawah, aku membiarkan saja
celanaku dicopot. Aku kini bercelana dalam saja, ujung kemaluanku tampak basah
sedikit. Dia terus mengusap batangku. Sambil tersenyum,dia melepaskan celana
dalamku, dan tampaklah batang kemaluanku dihadapannya. Dia tampak kagum
melihatnya.
Terasa kelembutan jari jemarinya
mengusap dan membelai batang kemaluanku. Diusap dan diurutnya keatas dan
kebawah. Terasa mau tercabut batang kemaluanku diperlakukan seperti itu. Aku
hanya mendesis geli sambil mendongakkan kepala menahan nikmat yang luar
biasa.Tiba-tiba, aku terasa kehangatan dan basah di batang kemaluanku. Aku
tunduk dan dapati batang kemaluanku ada didalam mulut Ibu Rita.
Dia mengulum batangku dan memainkan dengan lidahnya, aku terasa geli dan rasa mau keluar. Aku berusaha agar tidak cepat keluar. Ibu Rita menghisap batangku dengan rakus.”Ahhh…….mmmmm……..” aku mengerang keenakan. Sampai ke pangkal dia kulum, sambil matanya terpejam, hanya kadang-kadang membuka saat dia memandang ke arahku. Aku meremas rambutnya dan sorongkan kemaluanku ke mulutnya. Terasa hujung kemaluanku gulat dalam mulutnya saat aku dorong sedalam-dalamnya. Habis batangku dijilatnya.Batangku diperlakukan seperti eskrim, dijilat dengan rakus. Biji akupun diremas lembut sambil menjilat batang kemaluanku. Setelah itu, dia genggam kemaluanku saat bijiku dikulum dan dijilat. Aku terasa mau meledak saat itu, sedap tak terkira, hanya suara aku yang mengerang keenakan.Kemudian, Ibu Rita berhenti.
Dia bangun dan berdiri menghadap aku,
kami berhadapan. Terasa kehangatan tubuh kami di kamar itu. Aku memerhatikannya
atas bawah sambil tersenyum, dia juga demikian. Mata kami bertatapan, tiada
kata-kata yang keluar.Aku rapatkan badanku ke arahnya, sambil kedua tanganku
melingkar pinggangnya. Aku rangkul dan tarik rapat ke tubuhku. Ibu Rita juga
memeluk leher dan badanku. Kami semakin rapat, dan aku terus memeluknya.
Terdengar suara mendesis kami berdua. Aku rangkul penuh kasih sayang dengan
tangan kami meraba ke seluruh punggung. Aku eratkan pelukan, kemaluanku
menusuk-nusuk perutnya. Aku pegang pantatnya dan dorong serapat-rapat ke arah
tubuhku. Aku rasa sungguh bahagia, pertama kali melakukan ini dengan seorang
wanita Cina yang cantik rupawan, yeng telah lama menjadi impianku.Kami saling
menatap agak lama.
Lehernya aku cium,aku kecup.Begitu
juga dengan Ibu Rita, dia juga memberikan kerjasama dalam pelukan ini, leherku
dikecupnya juga.Kami saling mendesis keenakan berselang seling sambil
meneruskan pelukan dan rabaan ke seluruh badan.Kami berpandangan, mata saling
menatap, bibir semakin rapat, dan rapat. Lekatlah bibirku dengan bibir wanita
itu. Ibu Rita pandai dalam berciuman.Dialah yang menjulurkan lidahnya ke dalam
mulutku. Aku terus menghisap lidahnya. Lidah aku juga hisap dengan lembut saat
aku menjulurkan ke dalam mulutnya. Lidah kami saling bertautan mesra dan
pelukan makin rapat. Ibu Rita terpaksa menjinjitkan kakinya sedikit saat aku
menyedot dengan kuat lidahnya.Pelan-lahan, aku membaringkan Ibu Rita ke atas
kasur. Buah dadanya yang besar itu langsung bergetar saat tubuhnya menyentuh
kasur. Tangannya masih dilingkarkan di bahuku.Kami masih saling berkecupan.Aku
menindih Ibu Rita sambil meneruskan pelukan. Ciumanku,aku arahkan ke
lehernya,kemudian terus hingga ke buah dadanya. Aku hisap dan gigit
putingnya,bergantian,kiri dan kanan.Ibu Rita menggeliat keenakan.Aku hisap
semaunya, dengan ditingkahi oleh rintihan Ibu Rita.Aku terus mencium,kini
bagian pusarnya aku jilat. Aku turun lagi, hingga ke pangkal vaginanya.
Kemudian, aku berhenti, aku lihat kemaluannya, agak merah, dihiasi dengan
bulu-bulu halus yang tersusun rapi. Kelihatan kelentitnya yang merah
bergerak-gerak pelan. Vaginanya kelihatan basah, berair, aku jadi nafsu, terus
aku ulurkan jari aku ke kemaluannya. Aku usap dengan lembut bibir kemaluannya.
Ibu Rita mengerang enak sambil
menggerak-gerakkan pantatnya. Aku mainkan kemaluannya, kelentitnya aku gigit
pelahan,dan terangkat pantatnya menahan kesedapan itu.Kelentitnya aku mainkan
dengan lidah,berulang2,tiba2 tubuh Ibu Rita mengejang dan lidah dan bibirku
terasa basah.
”Ahhhhhh……hhhhhhhhhh……..”Rupa2nya Ibu
Rita sudah klimaks.Aku berhenti menjilat dan usapkan bibirku dengan sprei
kasurnya. Aku memainkan jariku di vaginanya. Aku masukkan sedikit, dia
mengerang. Aku tusuk dan tarik lagi,dia mengerang makin kuat, suara yang
menaikkan nafsuku.Tubuhnya aku baringkan, lalu aku mendekapnya. Lubang
kemaluannya sudah basah.
Aku julurkan ujung kemaluanku bermain2
di sekitar bibir vaginanya. Dia makin mengerang kuat.
”Please …ssss……..”pinta Ibu Rita
dengan suara yang tersendat-sendat sambil memegang erat leherku.Ujung
kemaluanku yang basah lekat dengan vaginanya yang berair itu membuatkan aku
makin nafsu. Pelan-lahan aku tusuk vaginanya. Terasa sempit, Sulit juga untuk
diterobos, mungkin jarang digunakan.Ibu Rita menjerit kecil sambil mengeratkan
lagi rangkulannya.
”Arghhhhh…..hhhhhh…….”Batang
kemaluanku,aku benamkan dalam dalam, sampai habis. Aku membiarkannya berendam
dalam lubang nikmat itu sambil kami terus berkecupan. Setelah itu, dengan pelan
aku angkat dan tusuk kembali. Suara rintihannya memberi semangat ayunanku. Aku
genjot lagi, mata aku terpejam menahan kenikmatan yang luar biasa ini.Setelah
puas dengan posisi itu, aku angkat Ibu Rita sambil aku duduk bersila. Kemudian,
aku dorong agar vaginanya ke arah batangku.
Ibu Rita ku dudukkan atas batangku.
Kini dia yang melakukan gerakan. Ibu Rita mengayuh tubuhnya atas bawah sambil
mengerang dengan tanganku memeluk tubuhnya. Suara kami seolah bersautan
mengerang keenakan. Aku lonjorkan kaki dan membaringkan badan dengan Ibu Rita
masih berada di atas. Aku rasa batangku agak sakit, seperti mau patah. Kemudian
aku kembali ke posisi seperti tadi. Sekali lagi tubuh Ibu Rita mengejang,
klimaksnya datang lagi, terasa basah batang ku didalam vaginanya.
Aku telungkupkan Bu Rita dan aku
angkat pinggangnya, nungging sedikit. Kelihatan lubang vaginanya yang basah
menanti batangku. Aku terus sorongkan batang kemaluanku ke dalam vaginanya dari
arah belakang. Terasa sedikit sempit. Aku dayung dengan lembut dan makin laju.
Rintihannya berselang seling dengan suaraku yang mengerang keenakan. Sambil
menusuk, aku mainkan teteknya, putingnya aku pilin-pilin sampai aku merasa
hendak keluar, lalu aku cabut kontolku. Aku menelentangkannya lagi dan kami
berpelukan lagi.
Aku mengistirahatkan kontolku sebentar
agar tidak keluar.Ketika sudah kembali terkontrol, aku kembali dorong kontolku
ke lubang vaginanya. Aku dayung dengan laju, makin laju dan terasa dihujung
kontolku seperti gunung berapi yang hendak memuntahkan lavanya, dan
…….”Arrrggghhhhh ……..”Satu letupan air mani menerjang ke dasar vagina Ibu Rita
diikuti jeritan kenikmatan yang maksimum keluar dari mulut Ibu Rita dengan
keadaan tubuh yang kejang. Rupa-rupanya, kami mencapai klimaks bersama. Terasa
kebasahan di dalam vaginanya, air maniku berpadu dengan air maninya. Aku
biarkan kontolku terendam di situ buat sementara. Peluh yang memercik telah
membasahi badan kami.
Aku keletihan, begitu juga dengan Ibu Rita, kami terkapar bersama di pulau impian setelah berdayung di lautan berahi yang bergelora.Pelan-lahan, matanya dibuka. Aku pandang dan renung jauh di dalam matanya. Terpancar kebahagiaan dan kepuasan di wajahnya. Aku juga begitu. Kami berkecupan tanda berterima kasih atas kerjasama dalam mendapat mendapatkan kepuasan seksual. Aku cabut kemaluanku dan berbaring di sebelahnya. Nafas turun naik dengan kencang.Ibu Rita merapatkan tubuhnya ke arahku. Dia meletakkan kepalanya atas lenganku sambil tangan kanannya memeluk badanku. Jarinya memilin-milin putingku.
Baca Juga : Ngewe Dengan Guru Saat Daki Gunung
Aku rasa geli, tapi enak. Kemudian,
tangannya lari dan memegang batang ku yang lembek dan basah itu. Diusap dan
dibelainya dengan penuh manja. Aku biarkan saja, sambil membelai rambutnya.
Dahinya aku kecup mesra. Malam itu, kami tidur bersama dalam keadaan telanjang
dan berpelukan. Nyenyak karena telah mengarungi lautan asmara bersama. Subuh
itu, aku terjaga dengan semangat baru. Kemaluanku kembali ngaceng
sengaceng-ngacengnya. Ibu Rita aku bangunkan, ternyata diapun menginginkannya.
Dan sekali lagi kami belayar bersama ke pulau impian lagi. Akhirnya terdampar
juga di pantai pulau impian itu dengan sukses. Untuk kedua kalinya air maniku
disemprotkan ke dalam lubuk kenikmatan yang tak ada tandingannya.Setelah pagi,
kami bangun. Aku mengenakan kembali pakaian dan membasuh muka. Ibu Rita memakai
kembali dasternya dan terus ke bawah.
Saat aku turun, telah terhidang dua
cangkir teh di atas meja. Kami mimum dan aku meminta diri untuk pulang.Di muka
pintu, sebelum pulang, Ibu Rita memberikan kecupan ke bibirku, dan mengingatkan
aku agar datang lagi malam ini. Aku angguk sambil tersenyum penuh arti….Masih
ada lagi 5 malam sebelum suami Ibu Rita pulang. Setiap malam akan kumanfaatkan
sebaik-baiknya untuk mendapatkan kenikmatan yang tiada tara ini. Dan selama 5
malam itulah aku memiliki kesempatan menggauili isterinya dengan berbagai gaya
sepuas-puas-nya. Aku tidak lagi tidur di kamar tamu,tetapi di kamar Ibu Rita.
Kami tidur bersama, bertelanjang sepanjang malam seperti suami isteri. Ibu Rita
menyukai pelayananku. Selama itu, kami telah melakukan hubungan berbelas kali.
Bukan hanya di dalam kamar, malah di dalam kamar mandi juga. Ada kalanya kami
bercinta saat mandi bersama di waktu malam atau pagi. Aku rasa sungguh bahagia
selama berada di rumahnya.
Jessica tidak tahu mengenai hubungan
ibunya dengan aku. Walau pun dia tahu aku bermalam di rumahnya, tapi dia tak
tahu yang aku bermalam di kamar ibunya. Teknik bercinta kami perdalam, setiap
posisi akan kami coba.Kami sudah tak pilih tempat, asalkan aman, kami
melakukannya. Sesaat mandi bersama, dia akan menggosok badanku dengan sabun,
serta dikocoknya kontolku. Aku juga menyabun ke seluruh anggota badannya.
Selepas itu, lubang vaginanya menjadi sasaran kontolku, kami melakukan sambil
berdiri. Jika tidak orang di rumah, kami akan bertelanjang sepanjang hari, baik
di ruang tamu maupun di dapur. Kami benar-benar senang berkelakuan sperti itu.
Pernah sekali Ibu Rita meminta aku semprotkan air mani ke mulutnya seperti yang
pernah kami lihat di DVD , tetapi dia terus muntah. Mungkin belum biasa. Tapi
untuk kedua kali dan selanjutnya, Ibu Rita tidak lagi muntah saat aku
menyemprotkan air mani ke dalam mulutnya, dia akan langsung menelannya kemudian
dia terus menjilatnya air mani yang tersisa di-kontolku hingga kering.Aku
semakin tau suami Ibu Rita jarang bersama dengan Ibu Rita karena terlalu sibuk.
“Pantas lubang vaginanya masih sempit”
bisik hatiku. Ini diakui sendiri olehnya. Sebab itulah Ibu Rita merelakan
dirinya disetubuhi karena sudah lama lubangnya tak dimasuki oleh kontol lelaki
serta dibanjiri dengan air mani yang hangat. Ibu Rita juga memberitahu dia
sebenarnya gembira saat tau suaminya akan dinas luar selama beberapa hari dan
aku akan menemaninya selama suaminya pergi. Jadi kesempatan itu tidak
disia-siakannya, Ibu Rita sengaja mencari jalan agar dapat bercinta denganku.
Rupanya, Ibu Rita sengaja ber-pura-pura jatuh ditangga untuk memancing aku.Aku
juga bertanya tentang resiko karena aku telah memuntahkan air maniku
ke-vaginanya. Aku takut dia hamil nanti. Tetapi Ibu Rita menjelaskan yang dia
secara teratur mengkonsumsi pil KB. Lega hatiku mendengar jawabannya. Setelah
dia memberitahu rahasianya, aku juga menyatakan kalau aku sudah lama
menginginkan dirinya.
Kukatakan jika dapat bersentuhan pun
sudah lumayan, tapi ketika kesempatan untuk aku bersama dengannya terbuka luas,
aku wujudkan impian aku. Kemudian, kami ketawa bersama. Tidak sia-sialah aku
telat pulang ke kampung untuk menemaninya.Malam ini malam terakhir aku
menemaninya. Kami bercinta sepanjang malam, sampai kelelahan. Besok aku akan
pulang ke kampung, dan suaminya akan datang dan akan tidur bersama dengan ibu
Rita, jadi kami bercinta sepuas-puasnya. Bisa dikatakan kami tak tidur malam
itu.
Keesokan paginya, aku pulang. Sebelum pulang, Ibu Rita mengucapkan terima kasih karena aku telah bersedia menemaninya selama suaminya tidak ada Aku juga mengucapkan terima kasih atas layanan yang diberikan. Ibu Rita menyatakan bahwa dia sangat puas dengan hubungan kami ini, tidak pernah dia mendapat kepuasan seperti itu dari suaminya.Jauh di sudut hatiku, aku bangga karena dapat membantunya mencapai kepuasan yang diharapkannya.Tengah hari itu, suaminya pulang dan aku dalam perjalanan pulang ke kampung menghabiskan liburan sekolah.Hubunganku dengan Ibu Rita tetap berjalan setelah tahun ajaran baru.
Aku tidak memberi les lagi ke-Jessica
karena kebetulan sekarang aku menjadi guru kelas Jessica dan sekolah kami
melarang guru kelas memberi les kepada murid kelasnya sendiri. Kesempatan untuk
tetap berhubungan timbul dengan diikutkannya Jessica ke-sanggar melukis bersama
Cindy yang masih terhitung tetangganya. Saat Jessica berangkat bersama Cindy
dengan diantar supir Cindy aku sudah siap masuk rumah untuk bercinta dengan Ibu
Rita. Seringkali Jessica dijinkan untuk langsung ke-Bintaro Plaza untuk jajan
bersama Cindy sehingga waktu kami menjadi lebih panjang. Pernah ketika Jessica
pulang aku masih dikamar, terpaksa aku sembunyi dulu sampai Jessica mandi.
Sayangnya sampai saat ini suami Ibu Rita belum dapat tugas keluar lagi.



0 Komentar