Satu bulan sejak berpisah dengan
anak istri kini akhirnya aku mendapatkan libur beberapa hari untuk bertemu
keluarga. Karena aku bertugas di kota S yang dekat dengan orang tuaku yang
tinggal di kota J maka aku putuskan siang ini berkunjung ke rumah orang tua ku
terlebih dahulu selama beberapa hari, baru kemudian menuju rumah mertua ku
dimana anak dan istriku sedang berada di sana.
Sebenarnya anak dan istriku
tinggal bersamaku di kota S namun karena mertua ku baru saja operasi maka
istriku memutuskan untuk menemani orang tuanya di kota T.
Namaku Hendro, memiliki 2 orang
putra dan satu orang putri yang masih berumur 6, 4, dan 2 tahun. Aku 3
bersaudara kandung. Yoga adikku tinggal di pusat ibu kota sedangkan Endah
adikku tinggal bersama orang tuaku di kota J bersama suaminya.
Rutinitas seks dengan istriku
ternyata membuatku kecanduan. Setidaknya 3 hari sekali kami melakukannya. Lewat
dari itu maka saya akan uring-uringan. Masturbasi tidak akan menyelesaikan
masalah, sehingga tidak aku lakukan.
Satu bulan tidak berhubungan seks
membuat otakku semakin ngeres. Nampaknya otakku ini sudah ter-setting untuk
tetap melakukan seks secara rutin. Namun jika tidak, aku akan bernafsu pada
setiap wanita cantik dan montok yang aku temui.
Seperti wanita yang duduk di
sebelahku ini saat di dalam bus menuju rumah orang tua ku. Menggunakan kaos
lengan panjang namun agak longgar, celana jeans ketat serta jilbab modis khas
wanita zaman sekarang. Namun yang membuatku terkesima adalah ukuran
payudaranya, ku taksir sekitar 34C tercetak jelas meskipun dia menggunakan baju
longgar.
“Mau ke mana mbak?” Aku
memberanikan diri bertanya, siapa tau ada kesempatan berkenalan. Syukur-syukur
bisa menjadi teman selingkuh.
“Pulang ke kos di daerah J”
“Mahasiswa atau sudah kerja?”
“Mahasiswa” dia tersenyum ramah
membuat ‘adik’ ku semakin tidak karuan.
Sempat terpikir untuk ku perkosa
saja gadis ini tapi bagaimana caranya?
“Terminal! Terminal! Habis”
kondektur berteriak menandakan bahwa aku harus bersiap turun untuk kemudian
mengganti kendaraan.
Sambil berpamit dan tersenyum,
wanita tadi turun terlebih dahulu sambil ‘memberikan’ pantatnya yang membulat
ke arahku. Aku semakin tidak kuat.
Saat mengganti bus kota aku
mampir di warung sebentar untuk melepas dahaga. Sambil menyalakan sebatang
rokok. Menghisap, lalu menghembuskannya. Perasaan menjadi lebih nyaman. Namun tetap
saja, penisku ini tak mau kompromi.
Tak lagi gadis yang jadi incaran
mataku. Ibu-ibu penjual rokok dengan payudara ekstra besar membuat perhatianku
tertuju padanya. Mungkin usianya sekitar 50 tahun. ‘Pepaya’ sebesar itu
bagaimana cara meremasnya? Apa aku harus mengajak ibu itu untuk bercinta? Sial!
Aku tak punya nyali mengungkapkannya! Gila apa? Padahal selama ini aku tak
begitu tertarik pada wanita tua seperti itu. Namun payudara sebesar itu
ditambah lamanya aku tidak berhubungan badan maupun masturbasi membuat aku
ingin bersetubuh dengan orang yang jika situasi normal maka aku tidak akan
bernafsu.
Setelah rokok ku matikan, minuman
ku bayar aku meneruskan perjalananku menaiki bus dalam kota. Selama dalam bus
untungnya sepi dan rata-rata penumpangnya adalah pria. Aman. Penisku bisa lebih
tenang sekarang.
“Halo, dimana mas?” Aku mengontak
adik iparku, suami Endah.
“Di luar kota, ada proyek yang
harus di selesaikan”
Adik iparku ini memang pebisnis,
kerjaannya tak tentu. Kadang-kadang keluar kota hingga berminggu-minggu. Aku
berpikir, mungkin kesibukan ini yang membuat adik perempuanku belum mendapat
momongan. Tapi aku rasa bukan hanya itu. Toh dulu di awal pernikahan istriku ku
tinggal berminggu-minggu tetap hamil juga. Bahkan dalam 7 tahun pernikahan aku
memiliki 3 anak. Mungkin karena begitu aku melepas kangen, aku dan istri akan
melakukan persetubuhan sampai lupa waktu. Apa jangan-jangan suami Endah ini tak
terlalu ‘pro’ dalam reproduksi anak?
“Yang di rumah siapa, mas?” Ku
panggil ‘mas’ sebagai bentuk kesopanan meskipun aku lebih tua.
“Cuma Endah, ibu sama bapak
pulang ke T”
Sial! Tahu begitu aku langsung
saja pulang ke mertuaku dan melepas kerinduan dengan istriku.
“Oke, aku telpon Endah saja”
Segera ku tutup telpon, dan
mencari kontak Endah di ponsel ku.
“Bisa jemput mas di depan?”
“Lho kok nggak ngasih tau, mas?
Tumben”
“Sengaja, karena hanya mampir ke
rumahmu untuk ketemu ibu sama bapak, lalu besok lanjut ke T”
“Bapak sama ibu kan ke T”
“Iya, mas-mu sudah cerita tadi”
Tak berapa lama, adikku menjemput
dengan motor bebeknya. Penampilan adikku kini berbeda. Lebih alim dengan jilbab
lebar dan gamis panjang. Tidak lupa dengan kaus kaki dan daleman celana
panjang. Namun ada satu yang berbeda selain ke alimannya: Tubuhnya. Kini
tubuhnya jauh lebih seksi. Apa yang terjadi? Padahal baru beberapa bulan lalu
aku bertemu dengannya, aku tak pernah peduli dengan seberapa sintal adik
kandungku ini. Aku sudah mulai gila. Nafsu ini membuat pikiranku tak lagi
normal. Aku jadi jauh lebih sensitif melihat kesintalan setiap wanita, termasuk
adikku.
Aku hapal betul dengan adikku
ini, wajah kami memang agak mirip, yaitu sama-sama mirip ibu. Wajar, kami kan
lahir dari rahim yang sama.
Kibasan angin pada jilbabnya
membuat payudaranya semakin terlihat jelas. Ku taksir ukurannya 36C. Cukup
besar untuk seorang wanita yang belum mempunyai anak.
“Di depan?” Katanya menawarkan
untuk aku yang membawa motornya.
“Nggak usah” aku langsung naik
keatas motor tepat di belakangnya.
Sepanjang perjalanan aku semakin
uring-uringan. Aku mencoba mencondongkan kepalaku ke depan agar bisa
mengendus-ngendus leher adikku dari luar jilbab. Aroma keringat wanita dewasa
dapat ku rasakan. Ini kumanfaatkan karena selain dia sedang fokus berkendara,
aku sebagai kakak kandung tak akan dicurigai. Ingin sekali ku peluk dan meremas
payudaranya. Ah, gila! Adik sendiri ku makan! Baiklah, sampai rumah aku harus
masturbasi, jika tidak maka hal yang buruk akan terjadi mengingat malam ini aku
hanya akan berdua saja dengan adikku.
Sampai di pagar adikku membuka
gembok pagar sambil menunduk. Pantatnya tercetak jelas meskipun tertutup gamis.
Aku semakin tak karuan. Saat ini aku melihat adikku adalah wanita paling seksi
di dunia, melebihi siapapun termasuk istriku. Lagi-lagi ini karena aku lama
tidak berhubungan seks. Sperma ku pasti sudah amat kental.
Masuk rumah, aku duduk di teras,
menghabiskan sebatang rokok. Menghirup dalam-dalam, dan menghembuskannya
perlahan. Kali ini gambaran adikku tak kunjung bisa menghilang. Adikku sudah
amat matang untuk dinikmati. Tapi pada kenyataannya dia adalah adikku.
Arrrggghh! Aku memutuskan untuk berjalan-jalan di kebun belakang mengalihkan
pikiranku yang semakin menjadi-jadi.
Tak terasa, hari mulai gelap, aku
kembali ke rumah yang dimana ‘arus’ setan sangat terasa. Endah tampak sedang
menyetrika baju. Kondisi kota J yang panas ditambah panas gosokan membuat hawa
semakin panas, terlihat bulir-bulir keringat di dahi Endah mengeluarkan aroma
keringat seorang wanita.
“Sudah makan, mas?”
“Belum, gampang nanti, mas mules,
nih” kataku bohong lalu ngeloyor ke kamar mandi.
Di kamar mandi aku membuka
celanaku dan mengeluarkan penis 23 cm ku yang berurat, hitam dengan diameter 6
cm. Lagi-lagi bukannya aku membayangkan keseksian istriku, aku malah
membayangkan kesintalan adik kandungku yang dibalut gamis dan jilbab lebar. Aku
mulai meremas penisku sambil membayangkan bagaimana jika aku bercinta dengan
adikku. Akal sehat sudah hilang, aku terlalu bernafsu melihat keseksian adikku.
Makhluk yang dari kecil bermain bersamaku, kini setelah dewasa, aku ingin
bermain lagi, tapi tidak bermain petak umpet atau kucing-kucingan, melainkan
bermain seks. Aku semakin gelap mata. Ku hentikan aktifitasku di kamar mandi,
ku naikan kembali celanaku lalu keluar dari kamar mandi.
“Kalau belum makan itu ada sayur
di meja makan” kata adikku sambil merapihkan posisi baju yang akan di setrika.
“Kamu belum punya momongan juga
ya, ndah?” Kataku tak menghiraukan tawarannya sambil melangkah ke belakang
adikku.
“Ya namanya juga belum rejeki,
mas” jawabnya sambil terus menyetrika. Endah tidak memperdulikan keberadaanku
di belakangnya yang sudah sangat dilanda birahi.
“Aku juga masih pengen punya anak
lagi” kataku serius
“Memang tiga masih kurang?”
Tanyanya sambil tersenyum geli.
“Kurang, makanya ayo kita buatnya
sama-sama, ndah”
Belum sempat Endah berpikir apa
maksud kalimatku. Aku mempertegasnya dengan berkata.
“Kamu yang ngelahirin anak ku,
ndah. Kita bikinnya bareng, malam ini”
Lalu aku mendekat dan memeluk
tubuhnya sambil meremas kedua payudaranya dari luar jilbab dan gamisnya
sehingga setrika yang di pegangnya terjatuh ke lantai dan terlepas jauh dari
coloka listrik di dekat kami berdiri. Beruntung tidak mengenai kami berdua.
“Mas?!! Jangan!!” Endah meronta.
Tubuhku yang berotot tak begitu
kesulitan menahan rontaannya. Aku terus meremas dadanya yang tidak bisa
tertangkup semua oleh tanganku. Ternyata tetek Endah lebih besar dari yang aku
perkirakan. Kenapa tidak dari dulu saja ku perkosa makhluk ini?
“MAS??!! JANGAN MACAM-MACAM!!”
Katanya berteriak yang membuat aku kaget. Segera ku tutup mulutnya dengan
tanganku dan tangan kiriku meremas kedua payudaranya secara bergantian. Dari
payudara, tanganku menyambar vaginanya dengan cara menggosok-gosokannya dari
luar gamisnya.
Endah menggelinjang, aku semakin
kegirangan. Rontaannya tak berarti bagiku.
“Ndah, suamimu bego ya! Tubuh
semontok ini masa tidak bisa dibuat hamil?!”
“Hhhmmmfff.. Hhmmmmfffhh..”
Katanya tidak jelas.
“Gila ini susu, apa tetek? Gede
amat?!” Kataku kembali meremas kedua payudaranya bergantian.
15 menit aku meremas payudara dan
menggosok vaginanya dari luar gamis akhirnya membuat Endah kelelahan,
rontaannya tak sekuat ketika diawal aku menerkamnya.
“Kalau kamu bisa diam dan nggak
melawan, aku lepasin tanganku!” Aku menawarkannya. Dia diam saja. Aku lanjut
menggosok vaginanya.
“Denger! Kalau kamu nggak teriak,
aku lepasin” kataku menawarkan lagi.
Akhirnya Endah mengangguk. Aku
melepasnya. Tangan kananku kini leluasa meremas payudara kanannya dari
belakang. Endah hanya menangis sesenggukan dan sesekali menggelinjang ketika ku
gosok vaginanya.
“Aaahhh mmmhhh ssshhh” Endah
mulai mendesah mengikuti permainanku.
Kondisi Endah yang lemas karena
permainan tanganku, ku manfaatkan dengan memposisikan dia menungging sambil
berpegang pada meja gosokan. Ku singkap gamisnya, ku perosotkan celana panjang
berikut celana dalamnya. Maka terpampanglah vagina adikku yang tentu saja sudah
tidak perawan lagi oleh suaminya. Memang bentuknya tidak seperti vagina perawan
tapi mengingat vagina basah mengkilat ini adalah milik adik kandungku membuatku
tak tahan. Aku berjongkok dan mulai mengendus-endus serta menjilat lubang vaginanya
yang sedikit menganga. Tidak lupa aku juga menjilat lubang anus yang tersaji di
depan hidungku. Aku tak peduli aromanya, begitu nikmat dan menggairahkan. Ku
jilat klitorisnya, Endah semakin menggelinjang.
“Aaaawwwhh sssshhh” Endah menahan
rasa nikmatnya.
“Lepasin aja, ndah. Jangan di
tahan. Mas mau ngerasain cairanmu” kataku di sela-sela jilatanku.
10 menit ku jilat vagina yang sel
telurnya didalam mengandung DNA yang tentu saja sama dengan DNA yang terkandung
dalam spermaku mulai berkedut. Aku tidak tinggal diam, semakin intens ku sedot
vagina dan klitorisnya. Tak lupa tangan kanan ku menjamah payudaranya yang
menggantung. Ku tarik-tarik, ku remas dan ku pelintir payudara dan putingnya.
Endah semakin tak tahan.
“Oooohhh maaassshh..
Oooooggghh..” Teriak Endah melengking dan tubuhnya mengejang. Endah akhirnya
mengeluarkan cairan putih kental dari vaginanya yang langsung ku jilat dan tak
ku biarkan tersisa mengingat cairan ini adalah darah dagingku sendiri.
Setelah cairan tersebut habis ku
jilati. Aku pun berdiri. Memanfaatkan Endah yang ngos-ngosan, aku membuka
resleting celana Jeansku lalu menurunkan Jeans berikut celana dalamku. Lalu aku
menempelkan penisku ke bibir vagina adik kandungku yang semakin menganga
setelah orgasme tadi.
Ku gosok-gosok sebentar untuk
meratakan cairan di penisku. Lalu mulai ku dorong.
“Maaassshhh jangaaann..” Mohon
Endah. Ternyata masih ada keraguan di hatinya.
Aku tidak peduli, aku terus
menusuk. Dan.. Bleeesss.. Meskipun masuk semua tanpa hambatan di karenakan
Endah sudah bersuami tapi aku masih merasakan betapa sempitnya vagina Endah.
Penisku yang terlalu besar atau
vagina Endah yang memang sempit? Ohh.. Mungkin vagina dan penis kakak-adik yang
saling melengkapi membuat kami merasa kenikmatan yang teramat sangat.
Biasanya ketika sedang
bersenggama dengan istriku, maka istriku akan kesakitan terlebih dahulu
meskipun vaginanya sudah sangat basah. Tapi kali ini Endah berbeda, dia nampak
merasa ngilu sebentar karena memang ukuran penisku tapi tak lama langsung
merasa nikmat.
Akhirnya hasratku terpenuhi.
Endah dan aku sedang melakukan prosesi tabu pembuatan anak incest. Aku tak
peduli apa nanti bentuk anaknya dan bagaimana status sosialnya. Apakah dia
anakku atau ponakanku?
Pikiran seperti itu semakin
membuatku birahi. Pompaanku semakin ku percepat. Endah terlihat semakin
menikmati.
“Aaaahhh aaaooohhh aaahhh aaahh”
Desah Endah tak kuat menahan nikmat.
“Hhhooohhh haaahhh haaahhh”
Balasku mendesah.
“Haaahh Haooohh haahh aaahhh
ssshh aaahhh” Endah menyaut kembali.
“Ndaaahh, tetekmuuuhh khhhuu
rhemeess yaaahhh..”
“He’ehhhh heehhh he’ehhh haahh
haaahh” Desah Endah menyetujui.
Bayangkan jika situasinya tidak
seperti ini, Endah pasti jijik dan tidak mau aku remas payudaranya. Apa lagi
kenyataannya Endah adalah adik kandungku yang alim dan sudah bersuami. Tapi ini
lain. Endah dan aku sedang merasa kenikmatan membuat anak dengan prosesi tabu
ini.
Kami tidak peduli apakah ada orang
yang mendengar suara desahan kami. Endah dan aku saling berteriak kenikmatan.
Aku memompa tubuh Endah dalam
posisi Doggy-Style sambil meremas kedua payudaranya dengan beringas. Kami
berdua semakin menyatu tak terpisahkan.
“Arrrgghhh hooOOOH HAAAHHH” Desah
keras Endah.
“ANJING!! HaaaRRGHH enak banget
memekmu!!” Balasku
Lama kami beradegan seperti ini
hingga 20 menit kemudian Endah tiba-tiba menjerit. Dia mendorong pantatnya ke
belakang agar penisku semakin terbenam dalam rahimnya. Begitu juga dengan penisku
yang ku arahkan berlawanan dengan dorongan pantat Endah. Vagina Endah juga
semakin mencengkram penisku sehingga penisku yang menyimpan sperma kental ikut
berkedut.
Posisi mengunci seperti ini
membuat persetubuhan ini menjadi sempurna. Vagina Endah menyemburkan cairan
cintanya, dan aku menyemburkan sperma kental yang telah lama kusimpan.
“AAAARRRGGGHHH!!” Teriak Endah
sangat keras
“HHAAARRRGGHHH!!” Aku pun
membalas.
Kelamin kita saling menyemburkan
cairan yang tentunya memiliki kandungan yang sama karena kita adik-kakak
kandung.
1 menit kita dalam klimaks yang
tak terkendali sehingga hanya tinggal nafas kami yang ngos-ngosan.
Setelah situasi terkendali, aku
mencabut penisku yang mulai lunglai meskipun masih agak keras. Dan, begitu ku
cabut, ada cairan putih kental campuran antara cairan cinta Endah dan spermaku
menetes dari vagina Endah yang merekah merah. Meskipun tidak banyak. Itu
artinya banyak sperma ku yang masuk dan tersimpan dalam rahim Endah.
Aku terduduk di lantai begitu
juga Endah. Lalu terdengar isak tangis kecil keluar dari bibir Endah. Aku
merasa bersalah, begitu pula dengan Endah. Kami telah melakukan suatu hal yang
sangat sangat sangat salah.
Aku pun pergi ke kamar dan
langsung tertidur di kamar. Aku tidak memperdulikan rasa laparku meskipun aku
belum makan. Endah sendiri tak ku tahu sampai kapan menangis. Aku memang kakak
yang jahat. Tapi jauh di lubuk hatiku, aku puas. Sangat puas.
Esok paginya kulihat Endah sudah
bangun dan sedang mencuci baju. Dia tampak biasa saja, namun tak ada sepatah katapun
yang keluar dari mulut Endah.
Aku mempersiapkan diri dan
langsung pamit.
“Mas jalan dulu” kataku sambil
menutup pintu tanpa menunggu jawaban.
***
Tiga bulan setelah ini aku
mendapat pesan dari Endah bahwa dia sudah mengandung. Aku mengucapkan selamat.
Ah, ternyata Endah masih mau berkomunikasi denganku. Aku merasa lega. Tapi aku
sangat terkejut ketika dia mengatakan bahwa suaminya baru menggaulinya 1 bulan
yang lalu sedangkan kandungannya sudah 3 bulan. Ah, semoga tidak ada yang
curiga.
Ternyata persetubuhan kami walau
hanya sekali tapi berhasil menghasilkan keturunan incest. Aku was-was sekaligus
senang.
Beberapa bulan aku berusaha
menghindari pertemuan dengan Endah, meskipun Endah sudah mau berkomunikasi
denganku. Orang tua ku pun bingung kenapa aku jarang main ke rumah mereka. Tapi
alasan kesibukanku membuat mereka memaklumi.
Baca Juga : Main Dengan Anak Kost Yang Cantik
Sampai kelahiran anak Endah yang
kemungkinan besar anakku baru-lah aku bertemu Endah. Anak Endah laki-laki dan
diberi nama Farhan. Aku melihat Farhan sangat mirip dengan ibuku, tentu saja,
karena baik aku dan Endah cendrung mirip dengan ibu kami berdua. Namun
sayangnya, beberapa kali Farhan sakit-sakitan tanpa jelas penyebabnya. Apakah
ini penyebab anak hasil incest yang cendrung menghasilkan anak cacat? Aku tak
tahu. Yang jelas ku lihat Endah semakin montok dan seksi saja. Aku melihat
Endah dengan sudut pandang lain. Endah kini tampak cantik di mataku, meskipun
tidak ada perubahan di wajah Endah. Kami tidak lagi sekadar kakak dan adik
kandung.
Oohh… Apakah kami harus kembali
memberi Farhan adik?



0 Komentar