Di akhir pekan kali ini, aku
sedang berniat untuk berbelanja kebutuhan di rumah. Memang aku masih bujangan
dan hanya tinggal dikontrakan, tapi selagi bisa, aku lebih memilih untuk
belanja dan masak sendiri supaya lebih hemat. Aku pun mendatangi pusat
perbelanjaan yang terletak di suatu Mall di dekat rumah. Dengan mengendarai
sepeda motor ku, tidak sampai 15 menit aku sudah sampai. Bergegas aku menuju
tempat belanja berbekal kertas kecil berisikan daftar belanja yang sudah aku
siapkan dirumah.
Meski akhir pekan, tapi Mall
tersebut tidak terlalu ramai. Mungkin karena hari pun masih terbilang siang,
pukul 11. Aku yang sudah selesai berbelanja, berniat untuk bersantai sejenak
sambil berkeliling di dalam mall. Begitu aku sedang berjalan di depan restauran
jepang, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku dan membuat ku segera
menoleh. “Mas, maaf, boleh pinjam handphone sebentar gak? Handphone aku hilang
nih…” ternyata seorang wanita muda, usia sekitar 20 tahunan dengan muka sedikit
pucat dan panik.
Aku terdiam mendengar permintaan
wanita tersebut, “Jangan-jangan orang ini mau menipu…” pikirku dalam hati. Tapi
aku tidak mau berburuk sangka, ku beri pinjam saja handphoneku. Toh hape sudah
jelek, kalau diambil pun belum tentu laku dijual pikirku. “Oh, boleh, Mbak.
Ini…” Ujar ku sambil memberikan hapeku. Ku perhatikan wanita itu, cantik sekali
sebetulnya. Kulitnya yang putih dengan hidung mancung dan mata yang tidak
terlalu besar, ditambah rambut ikalnya berwarna coklat gelap dengan panjang sebahu.
Begitu cantik memesona.
Wanita tersebut mengambil hape
dan langsung memencet nomer dan menelepon. Sepertinya ia berusaha menghubungi
handphonenya yang hilang tersebut. Terlihat beberapa kali ia mencoba menelepon,
namun sepertinya usahanya sia-sia.
“Memang terakhirnya handphoneya
masih ada pas dimana, mbak?” tanya ku mencoba menenangkan wanita itu yang makin
terlihat panik.
“Tadi di parkiran sih masih ada,
mas. Sepertinya dicopet orang sih…” Jawabnya getir.
“Sudah coba lapor satpam?”
“Sudah, Mas. Katanya nanti diberi
tahu kalau ada yang nemuin…” Jawabnya lagi dengan nada memelas.
Ia pun putus asa dan
mengembalikan hapeku. “Ini mas, terima kasih ya Mas…” Aku hanya mengangguk
sambil memasukan hapeku ke dalam saku celana. “Duduk dulu sambil minum yuk, Mbak.
Biar tenang sedikit, mbak keliatannya panik banget. Nanti kalau sudah tenang,
kita cari bareng-bareng. Aku temenin deh.” Tawarku padanya.
Seperti sapi yang dicocokan
hidungnya, wanita itu hanya mengangguk dan mengikutiku. Kami berdua pun mampir
ke foodcourt mall tersebut dan memesan minum. Aku pun berusaha menghibur wanita
yang ku ketahui bernama Sabrina itu. Ia masih kuliah di salah satu universitas
swasta di Jakarta Barat. Awalnya ia ke mall ini hendak menjual hape tersebut,
tapi naas nasib malah membuat hape itu hilang sebelum sempat dijual.
Setelah ngobrol sekitar satu jam,
Sabrina pun terlihat lebih tenang. Pucat dan panik di wajahnya mulai berkurang.
Nada bicaranya pun sudah terlihat lebih santai. “Ya mungkin emang bukan rejeki
aku, mas. Terima kasih banyak ya mas udah mau nolong pinjemin hape tadi, sampe
nemenin aku minum disini. Makasih banyak ya mas.” Ucapnya dengan tulus.
Aku mengangguk sambil tersenyum,
“Udah seharusnya saling bantu, kan?” Sabrina mengangguk. Waktu sudah menunjukan
pukul 3:30 sore. Aku pun memutuskan untuk pulang sebelum jalanan macet karena
akhir pekan.
“Sabrina, aku pamit pulang duluan
ya. Sudah sore, khawatir nanti jalanan macet hehehe…” Pinta ku.
“Oh iya, mas. Kalau gitu bareng
aja, aku juga mau pulang kok…” Balasnya.
Kami berdua pun berjalan bersama
sampai ke parkiran. Sabrina membawa motor juga, jadi aku tidak perlu repot
menawarkan untuk mengantarnya hehehe.
“Kamu pulangnya ke mana?”
tanyaku.
“Pulang sih jauh mas. Aku mau ke
kosan temen aja paling di deket sini. Kalau mas pulang kemana?”
“Oh begitu, aku juga ngekos kok.
Di belakang gedung itu…” Kata ku sambil menunjuk gedung perkantoran yang ada di
dekat mall tersebut.
“Wah, deket dong dengan kosan
temenku. Bareng aja jalannya mas kalau gitu…”
Aku mengiyakan permintaan
Sabrina. Kami pun jalan beriringan sampai ke depan kosan temannya yang berjarak
50 meter dari kosanku.
“Sudah sampai nih, aku langsung
ke kosan ya, Na.” Ujarku.
“Iya mas, kosan mas yang itu
kan?” tanya Sabrina sambil menunjuk kosanku.
“Iya betul, nah itu yang dilantai
dua kamar paling kiri kamar aku hehehe…”
“Oke deh, mas. Nanti kalau
ternyata temen aku gak ada di kosan. Aku boleh main ke kosan mas gak?”
“Boleh dong, silakan aja na.”
Aku pun pamit dan segera ke
kosan. Sampai di kosan segera aku rapihkan belanjaan yang tadi aku beli.
Sembari membersihkan kamar sedikit demi sedikit. Setelah itu aku mandi untuk
menghilangkan gerah dan lengket setalah berkeliling di mall dan terkena panas
saat di motor tadi.
Selesai mandi, saat hendak mengenakan
pakaian, tiba-tiba pintu kamar ku ada yang mengetuk. “Ah, barjo nih paling.
Ngapain sih?” gerutuku dalam hati, Barjo adalah teman sebelah kamarku. Ia
sering sekali datang ke kamar, apalagi bila aku baru saja berbelanja, untuk
menghabiskan persediaan makanan ringan yang aku simpan di kamar.
“Iya, bentar.” Teriakku sambil
menghampiri pintu dan membukanya. “Apaan sih, Jo…” ucapan ku terhenti saat ku
lihat di depan pintu adalah Sabrina, bukan Barjo. “Eh kamu, kirain temen
sebelah kamar…” ucapku salah tingkah melihat Sabrina.
Sabrina hanya tersenyum, “Temen
aku ternyata gak ada mas. Aku kesini deh jadinya…” “Masuk masuk, maaf ya aku
baru banget selesai mandi nih…” ujar ku. Sedikit bingung juga karena aku bahkan
masih mengenakan handuk, belum berpakaian sama sekali.
Sabrina pun masuk ke dalam kamar
dan duduk di sofa kecil yang aku letakan di pojok kamar.
Aku langsung membuka lemari dan
mencari pakaian. Aku tak menyadari bahwa Sabrina sudah tidak lagi duduk di sofa
tapi berdiri tepat dibelakangku. Dengan sekali gerakan, Sabrina menyusupkan
tangannya ke dalam handukku. Sontak aku kaget mendapati penisku diremas-remas
oleh wanita yang baru saja aku kenal tadi siang. Aku langsung menoleh ke arah
Sabrina, ia tersenyum nakal sekali sambil tangannya tak mau lepas dari penisku.
“Aku ke kosan temen niatnya mau
minta ini, mas. Tapi temenku gak ada. Kalau sama mas, boleh gak?” Tanya Sabrina
dengan nada yang sangat menggoda.
Aku hanya melongo sambil
mengangguk kecil. Sabrina pun menarik handuk ku sampai semua terlepas. Ia mulai
menciumi dadaku. Bisa dibilang ini pertama kalinya aku melakukan aktivitas
seksual dimana si wanita yang memulainya dengan agresif, sementara aku hanya
berdiam diri menikmati perlakuannya. Penisku pun tak kuasa menahan rangsangan
yang diberikan oleh Sabrina, perlahan tapi pasti penisku mulai mengeras.
Sabrina menghentikan remasannya dan melihatku dengan mata indahnya sambil
perlahan menurunkan badannya. Ia jongkok sambil memerhatikan penisku.
Dikocoknya pelan, lalu dijilatnya batang penisku dari pangkal sampai ujung.
“Uhhh, Sabrina!” Teriak ku kecil
karena geli.
Sabrina memasukan kepala penisku
ke dalam mulutnya. Rasa nikmatnya kembali menjalar diseluruh badanku. Kepala
Sabrina mulai maju mundur dengan penisku yang menyumpal penuh mulutnya. Aku
diam tak bersuara, menikmati birahi yang sudah lama tak ku rasakan. Aku hanya
bisa merapihkan rambut Sabrina dan memeganginya agar tidak mengganggu
aktivitasnya yang membuatku merasa terbang seperti ke awang-awang.
Hampir lima menit Sabrina
melayani penisku dengan mulutnya yang dihiasi bibir tipis tersebut. Aku pun
memintanya untuk berdiri, lalu menciumi bibirnya. Ciuman panas antara kami
berdua begitu bergairah. Bibir kami berpagutan, lidah kami saling serang satu
sama lain. Aku mendorong tubuh Sabrina ke arahku agar semakin rapat. Bisa
kurasakan payudaranya yang cukup besar menempel di dadaku. Terasa desiran di
seluruh tubuhku saat tubuh Sabrina begitu dekat dengan tubuhku.
Aku coba meremas payudaranya,
Sabrina sedikit menggelinjang tanpa protes. Justru ciumannya semakin bergairah
saja. Aku pun semakin bernafsu dan bersemangat. Tanpa basa-basi, aku angkat
pakaian Sabrina, dan dengan sekali hentakan bra-nya yang berwarna hitam itu pun
terlepas. Kini dua gundukan payudara bulat yang kencang dan indah itu dengan
menantang menghadap padaku. Segera ku remas lagi ke dua payudara tersebut
sambil lidahku berusaha menyapu seluruh permukaan kulit leher
Sabrina yang jenjang dan putih
itu.
“Uhhh, massssss. Hmmm, enak
massss….” desis Sabrina pelan.
Tanganku yang masih belum puas
meremas payudara Sabrina berusaha untuk menurunkan celananya yang berwarna biru
tua itu. Setelah kancing celana aku buka dan kuturunkan sedikit, selebihnya aku
gunakan kakiku untuk menurunkan sepenuhnya celana Sabrina. Terlihat celana
dalamnya yang berwarna putih memiliki bercak basah disekitar area vaginanya.
“Sudah nafsu sekali sepertinya
wanita ini…” Gumamku dalam hati.
Kali ini bagian ku. Aku
menurunkan tubuhku dan bertumpu pada lututku. Ku ciumi paha Sabrina yang
jenjang dan sangat mulus itu sambil tanganku meremas pantatnya yang cukup keras
itu. Sabrina menggelinjang dengan desisan pelan sambil meremas kepala dan rambutku.
Aku turunkan celana dalam Sabrina. Terlihat vaginanya yang merah merekah tanpa
sehelai bulu kemaluan. Begitu basah, namun harum yang membuatku tak sabar untuk
menikmatinya.
Ku geserkan sedikit kaki Sabrina
agar bibir dan lidahku mudah menjangkau vaginanya tersebut. Sabrina hanya
menurut. Ku usapkan lidahku di bibir vaginanya yang tebal itu. “Aahhh mas!”
Teriak Sabrina. Ku mainkan terus lidahku di klitorisnya yang sudah membesar
tersebut. Ku rasakan tubuh Sabrina bergetar. Mungkin karena memang berdiri tanpa
sandaran, dan perlakuanku padanya membuat kaki kakinya menjadi semakin lemas
dan bergetar seiring nikmat yang ia dapatkan di vaginanya dari lidahku.
Sesekali kususupkan kedua jariku ke dalam vaginanya. Erangannya pun semakin
menjadi, ditambah tangan ku yang satu lagi tak henti hentinya meremas pantatnya
yang begitu seksi.
“Mas… Aku mau keluar, Mas….
Uhhhhh….” Desis Sabrina sambil meremas rambutku makin kencang.
Tidak lama berselang, Sabrina pun
mencapai orgasmenya yang pertama dengan ku. “Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh,
massssssssssss…… Aku keluarrrrr masss uoooohhh….!” Teriaknya. Sabrina menikmati
orgasmenya yang pertama dengan tubuh sedikit menunduk dan tangannya bertumpu di
kedua pundakku. Aku hanya melihat ekspresi mukanya yang terlihat begitu
menikmati permainanku dan mulut yang sedikit terbuka dan mata yang tertutup
rapat.
“Hoooh, hoooooh…” Erang Sabrina.
“Enak banget, Mas… Aku pertama kali loh keluar lagi berdiri gini, sumpah lemes
abis….” Kata Sabrina.
Aku tersenyum sambil berdiri
dengan tangan ku yang masih mengelus elus vagina Sabrina.
“Baru pakai lidah sama jari aja
udah lemes, gimana kalau pakai ini?” Tanyaku pada Sabrina sambil menarik
tangannya dan meletakannya di penisku yang masih menegang dari tadi.
Sabrina lalu membuka matanya dan
kembali melihatku dengan tatapan nakalnya. Tangannya mengocok pelan penisku.
“Hmm, ga tau sih. Gimana kalau
dicoba aja langsung?” pinta Sabrina nakal.
Aku mengangguk pelan sambil
tanganku mencoba membuka laci lemari yang ada di belakangku dari tadi. Ku cari
kondom yang masih kusimpan dengan baik dari pertemuanku dengan Niken
sebelumnya. Kondom berwarna merah yang tipis ini sepertinya akan menjadi
andalanku untuk setiap pergulatan dengan wanita-wanita yang haus birahi seperti
Niken dan Sabrina ini.
“Tipis banget, gak takut bocor
mas kondomnya?” Tanya Sabrina dengan bingung, tapi tangannya tetap meremas
penisku.
“Gak kok, malah enak kan kalo
tipis, jadi gak berasa lagi pake…” Jelasku sambil memasangkan kondom ke
penisku.
Sabrina hanya mengangguk sambil
menciumi dadaku. Setelah kondom terpasang, aku membalik tubuh Sabrina agar
memunggungiku dan mendorong tubuhnya. Posisi doggy style sambil berdiri bisa
dibilang posisi kesukaanku. Sabrina pun sepertinya mengerti apa yang aku
inginkan. Ia menungging sambil tangannya bertumpu ke meja yang ada tepat di
depannya. Ku ludahi sedikit tanganku dan ku usapkan di vagina Sabrina. Tanganku
yang satu mengarahkan penisku agar bisa semakin mudah menerobos masuk vagina
Sabrina yang terlihat begitu nikmat. Ku masukan kepala penisku sedikit demi
sedikit ke dalam vagina Sabrina. Dari kaca yang ada di meja, aku bisa melihat
wajah Sabrina yang penuh nafsu dan birahi, menikmati setiap senti penis ku yang
masuk ke dalam lubang kewanitaannya. Sabrina melenguh pelan saat penisku pun
sudah masuk seluruhnya ke dalam vaginanya yang kesat itu.
“Masss, nikmat masss… Genjot
terus massss….”
Aku pun menggenjot perlahan
vagina Sabrina. Aku ingin penisku bisa merasakan tiap permukaan di dalam vagina
Sabrina yang hangat itu.
Saat pinggulku sibuk menggenjot,
tanganku menepuk keras dan meremas pantat Sabrina bergantian. Posisi
menunggangi kuda yang liar yang pernah aku lakukan sepertinya. Dari kaca di
meja juga aku bisa melihat payudara Sabrina yang menggantung dan bergoyang
seirima dengan genjotanku di vaginanya. Pemandangan yang sungguh membuat ku
ingin terus merasakannya dalam waktu yang sangat lama. Kami bertahan hampir
sepuluh menit dengan posisi itu sampai akhirnya aku merasakan dorongan dari
dalam penisku yang mendobrak ingin keluar dengan cepat.
“Aku mau keluar nih, Na…”
Lenguhku pelan.
“Keluarin di mulut aku dong,
Masss…” Pinta Sabrina.
Segera ku cabut penis dan kondom
yang masih terpasang rapih, Sabrina langsung mengambil posisi berjongkok di
depan ku dan membuka mulutnya lebar. Ku kocok cepat penisku sampai dorongan
yang ada tidak bisa lagi ku tahan.
“Aku keluarrrrrr” crot crot crot,
begitu banyak sperma yang menyemprot keluar dari dalam penisku dan memenuhi
wajah Sabrina. Sperma putih kental seperti susu itu menutupi mata, hidung dan
pipi Sabrina. Beberapa juga masuk langsung ke dalam mulutnya dan ditelan cepat
sampai habis.
Sabrina memasukan penisku ke
dalam mulutnya dan membersihkannya dengan lidah, dihisapnya sampai habis
seluruh sperma yang tersisa di kepala penisku. Setelah itu baru ia mengusap
sperma yang ada di wajahnya dengan tangan lalu memasukan sperma tersebut ke
dalam mulutnya. Benar-benar haus sperma wanita ini, pikirku. Sabrina tersenyum
sambil tertawa kecil saat menikmati spermaku.
“Enak sekali mas, suka deh sama
sperma kamu…” ucap Sabrina manja sambil mengusap usap penisku yang masih
tegang.
“Sebentar ya, Mas…” Sabrina
berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Aku mengiyakan lalu menuju tempat
tidur. Pergulatan dengan posisi berdiri lebih membuat letih ternyata. Dan aku
pun masih belum habis pikir bisa menikmati tubuh Sabrina. Sabrina pun keluar
dari kamar mandi masih tanpa busana. Ia tersenyum melihatku yang sudah
berbaring di kasur dan menghampiriku, ia pun berbaring di sampingku.
“Capek, ya?” Tanya Sabrina sambil
mengecup pipiku.
“Yah, lumayan deh. Pegel juga
berdiri, hahhaa.”
Sabrina tertawa mendengar
penjelasanku dan memelukku kemudian. Kepalanya disandarkan di atas dadaku.
Sungguh posisi yang romantis dan membahagiakan setelah bercinta.
“Ngomong-ngomong, pacar kamu
pasti marah sekali ya mas kalau tau kita begini…”
“Hah? Aku gak punya pacar kok,
Na. Mungkin pacar kamu yang tinggal dikosan sebelah…”
“Dia sih bukan pacarku mas, emang
TTM aja, ketemu kalau ada maunya aja hehehe…”
“Oh gitu, wah enak dong. Aku juga
mau kalau jadi TTM kamu…”
“Yang bener mas? Asik!” Sabrina
terlihat senang sekali mendengar pengakuanku yang ingin menjadi TTMnya.
Sabrina kembali mengelus elus
penisku yang sudah lemas. Sepertinya nafsu birahinya kembali meninggi.
“Mau lagi ya?” tanya ku.
“He’eh.” Jawab Sabrina mengangguk
sambil tersenyum manja melihatku. “Kondom yang tadi masih ada gak?” Tanyanya.
“Ada tuh di laci, ambil deh…”
Perintahku.
Sabrina langsung beranjak ke
lemari dan mencari kondom tersebut di lemari. Bukan hanya takut bila sampai
hamil, tapi aku tetap berusaha untuk menggunakan kondom setiap berhubungan
badan untuk menghindari penyakit. Sabrina pun membawa beberapa kondom yang aku
simpan di laci. Diletakannya disamping bantal di sebelah ku.
“Tapi belum tegang nih, gak bisa
dipakein dong…” kata Sabrina melihat penisku yang masih lemas.
“Iya sih, mungkin kalau diciumin
sama kamu, dia bakal bangun lagi…” Pintaku nakal.
Sabrina mengerti mauku. Ia
tersenyum dan merapihkan rambutnya lalu menuju penisku yang masih lemas itu.
Dengan sekali tangkap, penisku sudah masuk seluruhnya ke mulut Sabrina. Ia
kembali menjilat batang penisku, menghisap penisku kuat kuat dan menjilati
bagian buah zakarku. Begitu nikmat, atau sangat nikmat sepertinya. Permainan
lidah Sabrina sukses membuat penisku kembali berdiri. Ku ambil satu kondom yang
ada di sampingku dan membuka bungkusnya. Ku berikan kepada Sabrina untuk
dipasangkan.
Setelah terpasang kembali dengan rapih. Sabrina lantas bangun dan mencoba duduk di atasku. Dipegangnya penisku dan diarahkannya ke dalam vaginanya yang masih basah sepertinya. Sekali hentakan kencang, vagina Sabrina pun terisi penuh oleh penisku yang sudah keras dan membesar itu. Sabrina membuka lebar mulutnya merasakan desakan kuat dari penisku yang ingin menjelajahi vaginanya lebih dalam.
“Hoooooh, kontolmu nikmat sekali
rasanya mas! Aku sukaaaaaa!” teriak Sabrina.
Aku tidak menyauti perkatannya,
tanganku sudah sibuk meremas kedua payudaranya yang bergantung indah di
dadanya. Terasa begitu nikmat kempotan vagina Sabrina di penisku. Sungguh
nikmat yang tiada tara, mungkin vagina Sabrina ini lebih nikmat dari vagina
Niken.
“Uhhh, masss, nikmatttt
masssssss, entoti aku terus masssss…” racau Sabrina sambil memainkan rambutnya.
Terlihat begitu sensual nan erotis. Nafsuku pun semakin bangkit dan tak
tertahankan.
Ku tarik Sabrina dan ku putar posisiku
agar aku yang diatasnya tanpa melepaskan penisku yang masih tertanam di dalam
vaginanya.
“Genjot mas, nikmati aku massss.
Nikmattttttt….” seru Sabrina
Aku genjot kembali vagina Sabrina
dengan liar dan cepat. Ku hantamkan penisku berkali kali keluar masuk vaginanya
yang semakin merekah dan basah.
“Uhhh, aku mau keluar nih
masssss…” Desis Sabrina.
“Sabar sayang, aku juga, sebentar
lagiii…” Kata ku berbisik di telinga Sabrina. Lalu ku kecup leher dan kujilati
lehernya sambil pinggulku masih sibuk menggenjot Sabrina.
“Arrrgggghh, masssss
arrrrrrggghhhhh..” Desah Sabrina mendapati vaginanya yang begitu nikmat
dimasuki penisku dan sapuan lidahku di lehernya yang menambah rasa geli namun
nikmat itu.
“Massssss, gak tahan masss, aku
mau keluar masssss…..” Pinta Sabrina memelas.
“Aku juga sayangggg…” Ku percepat
genjotan penisku dan ku fokuskan nikmat dipenisku agar ku bisa cepat keluar
untuk mengimbangi permainan Sabrina.
“Aaaaahhh masss! Aku keluarrrrrr
arrrggggghhhhhhhhh….” Erang Sabrina kencang.
“Aku jugaa sayanggggg
arrrggggggghhh!!!” Crot crot crot, tersemburlah sperma ku untuk yang kedua
kalinya. Kali ini di dalam vagina Sabrina meski tertahan kondom tipis itu.
“AAAAAAAAAAAAAHHHHHH NIKMAT
MASSS!!” Sabrina menarik dan memelukku. Ku rasakan tangannya sedikit mencakar
punggungku, mungkin ia tak bisa menahan nikmat yang ia rasakan.
Aku pun terkulai lemas di samping
Sabrina. Penisku langsung lemas setelah orgasme yang kedua ini. Sabrina pun
terlihat lemas berkeringat dan nafasnya begitu tersengal berat.
Segera ku cabut penis dan kondom
yang masih terpasang rapih, Sabrina langsung mengambil posisi berjongkok di
depan ku dan membuka mulutnya lebar. Ku kocok cepat penisku sampai dorongan
yang ada tidak bisa lagi ku tahan.
“Aku keluarrrrrr” crot crot crot,
begitu banyak sperma yang menyemprot keluar dari dalam penisku dan memenuhi
wajah Sabrina. Sperma putih kental seperti susu itu menutupi mata, hidung dan
pipi Sabrina. Beberapa juga masuk langsung ke dalam mulutnya dan ditelan cepat
sampai habis.
Sabrina memasukan penisku ke
dalam mulutnya dan membersihkannya dengan lidah, dihisapnya sampai habis
seluruh sperma yang tersisa di kepala penisku. Setelah itu baru ia mengusap
sperma yang ada di wajahnya dengan tangan lalu memasukan sperma tersebut ke
dalam mulutnya. Benar-benar haus sperma wanita ini, pikirku. Sabrina tersenyum
sambil tertawa kecil saat menikmati spermaku.
“Enak sekali mas, suka deh sama
sperma kamu…” ucap Sabrina manja sambil mengusap usap penisku yang masih
tegang.
“Sebentar ya, Mas…” Sabrina
berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Aku mengiyakan lalu menuju tempat
tidur. Pergulatan dengan posisi berdiri lebih membuat letih ternyata. Dan aku
pun masih belum habis pikir bisa menikmati tubuh Sabrina. Sabrina pun keluar
dari kamar mandi masih tanpa busana. Ia tersenyum melihatku yang sudah
berbaring di kasur dan menghampiriku, ia pun berbaring di sampingku.
“Capek, ya?” Tanya Sabrina sambil
mengecup pipiku.
“Yah, lumayan deh. Pegel juga berdiri,
hahhaa.”
Sabrina tertawa mendengar
penjelasanku dan memelukku kemudian. Kepalanya disandarkan di atas dadaku.
Sungguh posisi yang romantis dan membahagiakan setelah bercinta.
“Ngomong-ngomong, pacar kamu
pasti marah sekali ya mas kalau tau kita begini…”
“Hah? Aku gak punya pacar kok,
Na. Mungkin pacar kamu yang tinggal dikosan sebelah…”
“Dia sih bukan pacarku mas, emang
TTM aja, ketemu kalau ada maunya aja hehehe…”
“Oh gitu, wah enak dong. Aku juga
mau kalau jadi TTM kamu…”
“Yang bener mas? Asik!” Sabrina
terlihat senang sekali mendengar pengakuanku yang ingin menjadi TTMnya.
Sabrina kembali mengelus elus
penisku yang sudah lemas. Sepertinya nafsu birahinya kembali meninggi.
“Mau lagi ya?” tanya ku.
“He’eh.” Jawab Sabrina mengangguk
sambil tersenyum manja melihatku. “Kondom yang tadi masih ada gak?” Tanyanya.
“Ada tuh di laci, ambil deh…”
Perintahku.
Sabrina langsung beranjak ke
lemari dan mencari kondom tersebut di lemari. Bukan hanya takut bila sampai
hamil, tapi aku tetap berusaha untuk menggunakan kondom setiap berhubungan
badan untuk menghindari penyakit. Sabrina pun membawa beberapa kondom yang aku
simpan di laci. Diletakannya disamping bantal di sebelah ku.
“Tapi belum tegang nih, gak bisa
dipakein dong…” kata Sabrina melihat penisku yang masih lemas.
“Iya sih, mungkin kalau diciumin
sama kamu, dia bakal bangun lagi…” Pintaku nakal.
Sabrina mengerti mauku. Ia
tersenyum dan merapihkan rambutnya lalu menuju penisku yang masih lemas itu.
Dengan sekali tangkap, penisku sudah masuk seluruhnya ke mulut Sabrina. Ia
kembali menjilat batang penisku, menghisap penisku kuat kuat dan menjilati bagian
buah zakarku. Begitu nikmat, atau sangat nikmat sepertinya. Permainan lidah
Sabrina sukses membuat penisku kembali berdiri. Ku ambil satu kondom yang ada
di sampingku dan membuka bungkusnya. Ku berikan kepada Sabrina untuk
dipasangkan.
Baca Juga : Ngewe Anak Kost Baru Di Rumah
Setelah terpasang kembali dengan
rapih. Sabrina lantas bangun dan mencoba duduk di atasku. Dipegangnya penisku
dan diarahkannya ke dalam vaginanya yang masih basah sepertinya. Sekali
hentakan kencang, vagina Sabrina pun terisi penuh oleh penisku yang sudah keras
dan membesar itu. Sabrina membuka lebar mulutnya merasakan desakan kuat dari
penisku yang ingin menjelajahi vaginanya lebih dalam.
“Hoooooh, kontolmu nikmat sekali
rasanya mas! Aku sukaaaaaa!” teriak Sabrina.
Aku tidak menyauti perkatannya,
tanganku sudah sibuk meremas kedua payudaranya yang bergantung indah di
dadanya. Terasa begitu nikmat kempotan vagina Sabrina di penisku. Sungguh
nikmat yang tiada tara, mungkin vagina Sabrina ini lebih nikmat dari vagina
Niken.
“Uhhh, masss, nikmatttt
masssssss, entoti aku terus masssss…” racau Sabrina sambil memainkan rambutnya.
Terlihat begitu sensual nan erotis. Nafsuku pun semakin bangkit dan tak
tertahankan.
Ku tarik Sabrina dan ku putar
posisiku agar aku yang diatasnya tanpa melepaskan penisku yang masih tertanam
di dalam vaginanya.
“Genjot mas, nikmati aku massss.
Nikmattttttt….” seru Sabrina
Aku genjot kembali vagina Sabrina
dengan liar dan cepat. Ku hantamkan penisku berkali kali keluar masuk vaginanya
yang semakin merekah dan basah.
“Uhhh, aku mau keluar nih
masssss…” Desis Sabrina.
“Sabar sayang, aku juga, sebentar
lagiii…” Kata ku berbisik di telinga Sabrina. Lalu ku kecup leher dan kujilati
lehernya sambil pinggulku masih sibuk menggenjot Sabrina.
“Arrrgggghh, masssss
arrrrrrggghhhhh..” Desah Sabrina mendapati vaginanya yang begitu nikmat
dimasuki penisku dan sapuan lidahku di lehernya yang menambah rasa geli namun
nikmat itu.
“Massssss, gak tahan masss, aku
mau keluar masssss…..” Pinta Sabrina memelas.
“Aku juga sayangggg…” Ku percepat
genjotan penisku dan ku fokuskan nikmat dipenisku agar ku bisa cepat keluar
untuk mengimbangi permainan Sabrina.
“Aaaaahhh masss! Aku keluarrrrrr
arrrggggghhhhhhhhh….” Erang Sabrina kencang.
“Aku jugaa sayanggggg
arrrggggggghhh!!!” Crot crot crot, tersemburlah sperma ku untuk yang kedua kalinya.
Kali ini di dalam vagina Sabrina meski tertahan kondom tipis itu.
“AAAAAAAAAAAAAHHHHHH NIKMAT
MASSS!!” Sabrina menarik dan memelukku. Ku rasakan tangannya sedikit mencakar
punggungku, mungkin ia tak bisa menahan nikmat yang ia rasakan.
Aku pun terkulai lemas di samping
Sabrina. Penisku langsung lemas setelah orgasme yang kedua ini. Sabrina pun
terlihat lemas berkeringat dan nafasnya begitu tersengal berat.



0 Komentar