Istriku memang sengaja tidak membangunkan aku karena tadi malam aku pulang jam 4 pagi sampai rumah. Karena memang pekerjaanku sebagai auditor selalu dikejar target laporan, beruntung dalam teamku bekerja ada satu wanita yang bebas dengan segala sesuatu, sebut saja Vanes dialah yang semalam memberikan service kepadaku untuk mengurangi keteganganku dalam bekerja, menurut dia bersetubuh dengan orang lain bukan hal tabu lagi buat dia karena dia tidak mempermasalahkan jika suaminya juga berkencan dengan suami lain, yang penting dalam prinsip dia adalah tidak lihat langsung saat kejadian tersebut.
Aku yang masih enak dikasur masih
teringat dengan kejadian semalam aku tersenyum bahagia, sebetulnya say bisa
pulang awal jam 10 malam karena memang saat itu aku dan Vanes sedang horny hornynya
jadi kita bisa 3 ronde sampai akhirnya pagi menyambut kita.
“Walah…repot bener nih, pikirku.
“Lagi sendiri, eh ngaceng.” Kebetulan, di rumah tidak ada pembantu, karena
istriku, Indah, lebih suka bersih-bersih rumah sendiri dibantu kedua anakku.
“Biar anak-anak gak manja dan bisa belajar mandiri. Lagian, bisa menghemat
pengeluaran,” kilah istriku. Aku setuju saja.
Kurebahkan tubuhku di sofa ruang
tengah, setelah memutar DVD BF. Sengaja kusetel, biar hasratku cepet tuntas.
Setelah kubuka celanaku, aku sekarang hanya pakai kaos, dan tidak pakai celana.
Pelan-pelan kuurut dan kukocok tongkolku.
Tampak dari ujung lubang
tongkolku melelehkan cairan bening, tanda bahwa birahiku sudah memuncak tinggi.
Aku pun teringat Firda, sahabat istriku. Kebetulan Firda berasal dari suku
Chinese. Dia adalah sahabat istriku sejak dari SMP hingga lulus kuliah, dan
sering juga main kerumahku. Kadang sendiri, kadang bersama keluarganya.
Ya, aku memang sering berfantasi
sedang menyetubuhi Firda. Tubuhnya mungil, setinggi Vanes, tapi lebih gendut.
Yang kukagumi adalah kulitnya yang sangat-sangat-sangat putih mulus, seperti
warna patung lilin. Dan pantatnya yang membulat indah, sering membuatku ngaceng
kalo dia berkunjung.
Aku hanya bisa membayangkan
seandainya tubuh mulus Firda bisa kujamah, pasti nikmat sekali. Fantasiku ini
ternyata membuat tongkolku makin keras, merah padam dan cairan bening itu
mengalir lagi dengan deras. Ah Linda…seandainya aku bis a menyentuhmu..dan kamu
mau ngocokin tongkolku..begitu pikiranku saat itu.
Lagi enak-enak ngocok sambil
nonton bokep dan membayangkan Firda, terdengar suara langkah sepatu dan
seseorang memanggil-manggil istriku.
“Ndah…Indah…aku dateng,” seru
suara itu…
Oh my gosh…itu suara Firda mau
ngapain dia kesini, pikirku. Kapan masuknya, kok gak kedengaran? Firda memang
tidak pernah mengetuk pintu kalau ke rumahku, karena keluarga kami sudah sangat
akrab dengan dia dan keluarganya.
Belum sempat aku berpikir dan
bertindak untuk menyelamatkan diri, tau-tau Firda udah nongol di ruang tengah,
dan
“AAAHHH…ANDREEEEW…!!!!,”jeritnya.
“Kamu lagi ngapain?”
“Aku…eh…anu…aku….ee…lagi…ini…,”aku
tak bisa menjawa pertanyaannya. Gugup. Panik. Sal-ting. Semua bercampur jadi
satu.
Orang yang selama ini hanya ada
dalam fantasiku, tiba-tiba muncul dihadapanku dan straight, langsung melihatku
dalam keadaan telanjang, gak pake celana, Cuma kaos aja. Ngaceng pula.
“Kamu dateng ok gak ngabarin dulu
sih?” aku protes.
“Udah, sana, pake celana dulu!” Pagi-pagi
telanjang, nonton bf sendirian,lagi ngapain sih?”ucapnya sambil duduk di kursi
didepanku.
“Yee…namanya juga lagi horny…ya
udah mending colai sambil nonton bf. Lagian anak-anak sama mamanya lagi pergi
ke sekolah. Ya udah, self service,”sahutku.
“Udah, Ndrew. Sana pake celana
dulu. Kamu gak risih apa?”
“Ah, kepalang tanggung kamu dah
liat? Ngapain juga dtitutupin? Telat donk,”kilahku.
“Dasar kamu ya. Ya, udah deh, aku
pamit dulu. Salam aja buat istrimu. Sana, terusin lagi.” Firda beranjak dari
duduknya, dan pamit pulang.
Buru-buru aku mencegahnya. “Lin,
ntar dulu lah…,”pintaku.
“Apaan sih, orang aku mau ngajak
Indah jalan, dia nggak ada ya udah, aku mau jalan sendiri,”sahutnya.
“Bentar deh Fir. Tolongin aku,
gak lama kok, paling sepuluh menit,”aku berusaha merayunya.
“Gila kamu
ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”Linda protes sambil melotot. “Kamu jangan macem-macem
deh, Ndrew. Gak mungkin donk aku lakukan itu,”sergahnya. “fir,”sahutku tenang.
“Aku gak minta kamu untuk melakukan hal itu. Enggak. Aku Cuma minta tolong,
kamu duduk didepanku, sambil liatin aku colai.” “Gimana?”
Firda tidak menjawab. Matanya
menatapku tajam.
Sejurus kemudian..
“Ok, Fir. Aku janji gak ndeketin
apalagi menyentuh kamu. Tapi, sebelum itu, kamu juga buka bajumu dong…pake BH
sama CD aja deh, gak usah telanjang. Kan kamu dah liat punyaku, please?” aku
merayunya dengan sedikit memelas sekaligus khawatir.
“Hm…fine deh. Aku bantuin
deh…tapi bener ya, aku masih pake BH dan CDku dan kamu gak nyentuh aku ya.
Janji lho,”katanya. “Tapi, tunggu. Aku mau tanya, kok kamu berani banget minta
tolong begitu ke aku?”
“Yaaa…aku berani-beraniin…toh aku
gak nyentuh kamu, Cuma liat doang. Lagian, kamu dah liat punyaku? Trus, aku
lagi colai sambil liat BF…lha ada kamu, kenapa gak minta tolong aja, liat yang
asli?”kilahku.
“Dasar kamu. Ya udah deh, aku
buka baju di kamar dulu.”
“Gak usah, disini aja,”sahutku.
Perlahan, dibukanya
kemejanya…dan…ah payudara itu menyembul keluar. Payudara yang terbungkus BH
sexy berwarna merah…menambah kontras warna kulitnya yang sangat putih dan
mulus. Aku menelan ludah karena hanya bisa membayangkan seperti apa isi BH
merah itu.
Setelah itu, diturunkannya zip
celana jeansnya, dan dibukanya kancing celananya. Perlahan, diturunkannya
jeansnya…sedikit ada keraguan di wajahnya. Tapi akhirnya, celana itu terlepas
dari kaki yang dibungkusnya.
Wow…aku terbelalak melihatnya.
Paha itu sangat putih sekali. Lebih putih dari yang pernah aku bayangkan. Tak
ada cacat, tak ada noda. Selangkangannya masih terbungkus celana dalam mini
berbahan satin, sewarna dengan Bhnya. Sepertinya, itu adalah satu set BH dan
CD.
“Nih, aku u dah buka baju. Dah,
kamu terusin lagi colinya. Aku duduk ya.”
Firda segera duduk, dan hendak
menyilangkan kakinya. Buru-buru aku cegah.
“Duduknya jangan gitu dong…”
“Ih, kamu tuh ya…macem-macem
banget. Emang aku musti gimana?”protes Firda. “Nungging, gitu?”
“Ya kalo kamu mau nungging, bagus
banget,”sahutku.
“Sori ye…emang gue
apaan,”cibirnya.
“Kamu duduk biasa aja, tapi
kakimu di buka dikit, jadi aku bisa liat celana dalam sama selangkanganmu. Toh
veggy kamu gak keliatan?”usulku.
“Iya…iya…ni anak rewel banget ya.
Mau colai aja pake minta macem-macem,”Linda masih saja protes dengan
permintaanku.
“Begini posisi yang kamu
mau?”tanyanya sambil duduk dan membuka pahanya lebar-lebar.
“Yak sip.” Sahutku. “Aku lanjut
ya colinya.”
Sambil memandangi tbuh Firda, aku
terus mengocok tongkolku, tapi kulakukan dengan perlahan, karena aku nggak mau
cepet-cepet ejakulasi. Sayang, kalau peman dangan langka ini berlalau terlalu
cepat. Aku pun menceracau, tapi Firda tidak menanggapi omonganku.
“Oh…Liiiinnn….kamu kok mulus
banget siiiihhh….”aku terus menceracau. Firda menatapku dan tersenyum.
“Susumu montok bangeeeettttt…
pahamu sekel dan putiiiihhhh….hhhhh….bikin aku ngaceng, Liiiiiinnn……”
Firda terus saja menatapku dan
kini bergantian, menatap wajahku dan sesekali melirik ke arah tongkolku yang
terus saja ngacai alias mengeluarkan lendir dari ujung lobangnya.
“Pantatmu, Liiiinnn….seandainya
kau boleh megang….uuuuhhhhh….apalagi kena tongkolku….oouuufff…..pasti muncrat
aku….,”aku merintih dan menceracau memuji keindahan tubuhnya. Sekaligus aku
berharap, kata-kataku dapat membuatnya terangsang.
Firda masih tetap diam, dan
tersenyum Matanya mulai sayu, dan dapat kulihat kalo nafasnya seperti orang
yang sesak nafas. Kulirik ke arah celana dalamnya…oppsss….aku menangkap sinyal
kalo ternyata Firda juga mulai ternagsang dengan aktivitasku.
Karena celana dalamnya berbahan
satin dan tipis, jelas sekali terlihat ada noda cairan di sekitar selangkannya.
Duduknya pun mulai gelisah.
Tangannya mulai meraba dadanya,
dan tangan yang satunya turun meraba paha dan selangkangannya. Tapi Firda
nampak ragu untuk melakukannya. Mungkin karena ia belum pernah melakukan ini
dihadapan orang lain.
Kupejamkan mataku, agar Firda tau
bahwa aku tidak memperhatikan aktivitasku. Dan benar saja…setelah beberapa
saat, aku membuka sedikit mataku, kulihat tangan kiri Firda meremas payudaranya
dan owww…BH sebelah kiri ternyata sudah diturunkan.
Astagaaa..!!! Puting itu merah
sekali…tegak mengacung. Meski sudah melahirkan, dan memiliki satu anak, kuakui,
payudara Firda lebih bagus dan kencang dibandingkan Vanes. Kulihat tangan kiri
Firda memilin-milin putingnya, dan tangan kanannya ternyata telah menyusup ke
dalam celana dalamnya.
“Sssshh….oofff….hhhhhh…..:” Kudengar
suara nya mendesis seolah menahan kenikmatan. Aku kembali memejamkan mataku dan
meneruskan kocokan pada tongkolku sambil menikmati rintihan-rintihan Firda.
Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu
yang hangat…basah…lembut…menerpa tongkol dan tanganku.
Aku membuka mata dan terpekik.
“Lin…kamu…,”leherku tercekat.
“Aku nggak tega liat kamu
menderita, Ndrew,”sahut Firda sambil membelai tongkolku dengan tangannya yang
lembut.
My gosh…perlahan impin dan
obsesiku menjadi kenyataan. tongkolku dibelai dan dikocok dengan tangan Firda
yang putih mulus. Aku mendesis dan membelai rambut Firda. Kemudian secara
spontan Firda menjilat tongkolku yang sudah bener-bener sewarna kepiting rebus
dan sekeras kayu. Dan…hap…! Sebuah kejadian tak terduga tetapi sangat
kunantikan…akhirnya tongkolku masuk ke mulutnya. Ya, tongkolku dihisap Firda.
Sedikit lagi pasti aku memperoleh lebih dari sekedar cunilingis.
Tak tahan dengan perlakuan sepiha
Firda, kutarik pinggulnya da n buru-buru kulepaskan Cdnya.
“Kamu mau ngapain, Ndrew?” Firda
protes sambil menghentikan hisapannya. Aku tidak menjawab, jariku sibuk
mengusap dan meremas pantat putih nan montok, yang selama ini hanya menjadi
khayalanku.
“Ohh..Lin…boleh ya aku megang
pantat sama memiaw kamu?”pintaku.
“Terserah…yang penting kamu
puas.”
Segera kuremas-remas pantat Firda
yang montok. Ah, obsesiku tercapai…dulu aku hanya bisa berkhayal, sekarang,
tubuh Firda terpampang dihadapanku. Puas dengan pantatnya, kuarahkan jariku
turun ke anus dan vaginanya. Firda merintih menahan rasa nikmat akibat usapan
jariku.
“Achh…Liiiinn…enak
bangeeeeett….sssshhh…….”aku menceracau menikmati jilatan lidah dan hangatnya
mulut Firda saat mengenyot tongkolku. Betul-betul menggairahkan melihat bibir
dan lidahnya yang merah menyapu lembut kepala dan batang kelelakianku. Hingga
akhirnya….
“fir….bibir kamu lembut banget
sayaaaannggg.
“Keluarin sayang…tongkol kamu
udah berdenyut tuh….udah mau muncrat yaaa….”
“I…iiy…iiyyaaa….fir….Ouuuuufuffffff…..
argggghhhhhhhhhh…..”
Tak dapat kutahan lagi. Bobol
sudah pertahananku. Crottt…..crooottt….crooootttt…
Spermaku muncrat sejadi-jadinya
di muka, bibir dan dada Firda. Tanganhalus Firda tak berhenti mengocok batang
kejantananku, seolah ingin melahap habis cairan yang kumuntahkan
Ohhhh…….my dream come true…..
Obsesiku tercapai…pagi ini aku muncratin pejuhku di bibir dan muka Firda.
“Lin…kamu gak geli sayang…?
Bibir, muka sama dada kamu kenas permaku?”
Firda menggeleng dengan pandangan
sayu. Tangannya masih tetap memainkan tongkolku yang sedikit melemas.
“Kamu baru pertam kali kan, mainin
koto orang selain suami kamu?”
“Iya, Ndrew. Tapi kok aku suka
ya…terus terang, bau sperma kamu seger banget…kamu rajin maka buah sama sayur
ya?” tanya firda.
“Iya…kalo gak gitu, Indahmana mau nelen sperma aku.”
“Aihhh….” Firda terpekik. “Indah
mau nelen sperma?”
Aku mengangguk. “Keapa Fir?
Penasaran sama rasanya? Lha itu spremaku masih meleleh di muka sama dada kamu.
Coba aja rasanya,”sahutku.
“Mmmm…ccppp…ssllrppp….” terdengar
lidah dan bibir Firda mengecap spermaku. Dengan jarinya yang lentik, disapunya
spermaku yang tumpah didada dan mukanya, kemudian dijilatnyajarinya smape
bersih.Hmmm….akhirnya spermaku masuk kedalam tubuhnya.
“Iya, Ndrew, sperma kamu kok enak
ya. Aku gak ngerasa enek pas nelen sperma kamu…”
“Mau lagi….?”
“Ih…kamu tuch ya…masih kurang,
Ndrew?”
“Lha kan baru oral belum masuk ke
meqi kamu, Fir.” Sahutku…”Tuh, liat…bangun lagi kan?”
“Dasar kamu ya….”
“Benerkamu gak mau spermaku ? Ya
udah kalo gitu, aku mau bersih-bersih dulu.”ancamku sambil bangkit dari kursi.
“Mau sih…Cuma takut kalo Indah
dateng…gimana donk….”Linda merajuk.
Perlahan kuhampiri Lida, kuminta
dia duduk di sofa, sambil kedua kakiya diangkat mengangkang.
Kulihat meqinya yang licin karena
cairan cintanya meleleh akibat perbuatan jariku.
“Hmmm…Lin…meqi kamu masih
basah…kamu masih horny dong…”tanyaku.
“Udah, Ndrew….cepetan deh…nanti
istrimu keburu dateng…Lagian aku udah…Auuuwwww….!!!! Ohhh..Shhhhh…….” firda
memiawik saat lidahku menari diujung klitorisnya.
“Ndrewwww…kamu gilaaa
yaaa…”bisiknya samil menjambak rambutku.
Kumainkan lidahku dikelentitnya
yang udah membengkak. Jari ku menguak bibir vagina Firda yang semakin
membengkak. Perlahan kumasukkan telunjukku, mencari G-spotnya.
Akibatnya luar biasa. Firda makin meronta dan merintih. Jambakannya makin kuat.
Cairan birahinya makin membasahi lidah dan mulutku. Tentu saja hal ini tak
kusia-siakan.
Kusedot kuat agar aku dapat menelan cairan yang meleleh dari vaginanya. Ya…aroma
vagina Firda lain dengan aroma vagina istriku. Meskipun keduanya tidak berbau
amis, tapi ada sensasi tersendiri saat kuhirup aroma kewanitaan Firda.
“C’mon..Ndrew…I can’t
stand…ochhh…ahhhhhh…shhhh……c’mon honey….quick…quick….”
Aku paham, gerakan pantt Firda
makin liar. Makin kencang. Kurasakan pula meqinya mulai berdenyut…..seentar
lagi dia meledak, pikirku.
“Ting…tong…”bel rumahku berbunyi.
“Mas…..mas Andrew….”suara wanita
didepan memanggil namaku.
Sontak kulepaskan jilatanku. Firda memandang wajahku dengan wajah pucat. Aku pun memandang wajahnya dengan jantung berdebar.
“Ndrew..kok kyaka suara Rika
ya…”firda bertanya
“Wah..mau ngapain dia
kesini…..gawat dong…”ucapku ketakutan. “Udah Fir, kamu masuk kamarku dulu
deh…cepetan…”
Segera Firda berjingkat masuk ke
kamarku, mungkin sekalian membersihkan tubuhnya karena dikamarku ada kamar
mandi. Aku tau ada sebersit ekspresi kecewa di wajahnya, karena Firda hampir
meledakkan orgasmenya, yang terputus oleh kedatangan Rika, sahabatnya sekaligus
sahabat istriku.
Setelah kupakai kaos dan celana yang
kuambil dari lemari dan cuci muka sedikit, aku menuju ke ruang tamu, membuka
pintu.
“Halo, mas….’Pa kabar..?” sahut
Rika begitu melihatku membuka pintu.
“Baik, dik. Ayo masuk dulu.
Tumben nih pagi-pagi, kayaknya ada yang penting?” tanyaku seraya mengajak Rika
menuju ruang tengah.Mataku sedikit terbelalak melihat pakaiannya. Bagaimana
tidak?
Kaos ketat menempel dibadannya,
dipadukan dengan celana spandex ketat berwarna putih. Aku melihat lipatan
cameltoe di selangkangannya menandakan bahwa didaerah itu tidak ada bulu
jembutnya, dan saat aku berjalan dibelakangnya, tak kulihat garis celana dalam
mebayang di spandexnya. Hmm…mana mungkin dia gak pake CD..mungkin pake
G-string, pikirku.
Kami berdua segera menuju ruang
tengah. Untung saja, film bokep yang aku setel udah selesai, jadi Rika nggak
sempat melihat film apa yang tengah aku setel.
“Ini lho mas, aku mau anter
oleh-oleh. Kan kemarin aku baru dateng dari Jepang. Nah, ini aku bawain
….sedikit bawaan lah, buat kamu sama Indah. Itung-itung membagi kesenangan.”
“Wah…tengkyu banget lho…kamu baik
banget”
“Ah, biasa aja lageee..hehehe”
Kami berdua sejenak ngobrol-ngobrol, karena memang sudah beberapa bulan Rika
nggak berkunjung ke rumahku. Rika ini adalah salah satu sahabat istriku, selain
Firda
Diam-diam, akupun juga terobsesi
dapat menikmati tubuhnya. Ya, Rika seorang wanita yang mungil. Tinggi badannya
nggak lebih dari 155cm. Bandingkan dengan tinggiku yang 170. Warna kulitnya
putih, tapi cenderung kemerahan. Hmm..aku sering berkhayal lagi ngent*tin Rika,
sambil aku gendong dan aku rajam memiawnya dengan tongkolku. Pasti dia
merintih-rintih menikmati hujaman tongkolku.
“Hey…bengong aja…ngeliatin apa
sih..” tegur Rika.
“Eh…ah…anu…enggak. Cuma lagi
mikir, kapan ya gw bisa jalan-jalan sama kamu…”
Eits..kok ngomongku ngelantur
begini sih. Aduh…gawat deh…
“Alaaa..mikirin jalan-jalan apa
lagi ngeliatin sesuatu?” Rika melirikku dengan pandangan menyelidik.
Mati aku…berarti waktu aku
ngeliatin bodynya, ketahuan dong kalo aku melototin selangkangannya. Wah….
“Ya udah, mas. Aku pamit dulu,
abis Indah pergi. Lagian,dari tadi kamu ngeliatin melulu. Ngeri aku…ntar
diperkosa sama kamu deh..hiyyy…” Rika bergidik ambil tertawa.
Aku Cuma tersenyum.
“Ya udah, kalo kamu mau pamit.
Aku gak bisa ngelarang.”
“Aku numpang pipis dulu ya.”Rika
menuju kamar mandi di sebelah kamarku.
“Iya.”
Tepat saat Rika masuk kamar
mandi, sambil berjingkat Firda keluar dari kamarku.
Aku terkejut, dan segera menyuruhnya masuk lagi, karena takut ketahuan.
Ternyata CD Firda ketinggalan di kursi yang tadi didudukinya waktu sedang aku
jilat memiawnya. Astagaaa…untung Rika nggak ngeliat…atu jangan-jangan dia udah
liat, makanya sempat melontarkan pandangan menyelidik? Entahlah.
“Cepeeeett..ambil trus ke kamar
lagi.”perintahku sambil berbisik.
Firda mengangguk, segera
menyambar Cdnya dan…
“Ceklek….!”
Pintu kamar mandi terbuka, dan
saat Rika keluar, kulihat wajahnya terkejut melihat Firda berdiri terpaku
dihadapannya sambil memegang celana dalamnya yang belum sempat dipakainya.
Ditambah keadaan Firda yang hanya memaki kaos, tetapi dibawah tidak memakai
celana jeansnya.
Akupun terkejut, dan berdiri terpaku. Hatiku berdebar, tak tahu apa yang harus
kuperbuat atau kuucapkan. Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat dan
tak terelakkan. Kepalaku terasa pening.
“firda…? Kamu lagi ngapain?” Rika
bertanya dengan wajah bingung campur kaget.
“Eh…anu…ini lho…”kudengar Firda
gelagapan menjawab pertanyaan Rika.
“Kok kamu megang celana dalem?
Setengah telanjang lagi?” selidik Rika. “Oo…aku tau…pasti kamu berdua lagi
berbuat yaaa…?”
“Enggak Rik. Ngaco kamu, orang
Firda lagi numpang dandan di kamarku kok.” Sergahku membela diri.
“Trus, kalo emang numpang dandan,
ngapain dia diruangan ni, pake bawa celana dalem lagi.” Udah gitu telanjang
juga..Hayo!!!” Rika bertanya dengan galak.
“Sini liat.” Rika menghampiri
Firda dan cepat merebut celana dalam yang dipegang Firda, tanpa perlawanan dari
Firda.
“Kok basah…?”Rika mengerutkan
keningnya. “Nhaaaaa..bener kan…hayooooo….kamu ngapain…?”
“udah deh, Rik…emang bener, aku
lagi mau ML sama Firda. Belum sempet aku ent*t, sih. Baru aku jilat-jilat
memiawnya, keburu kamu dateng.” Aku menyerah dan memilih menjelaskan apa yang
barusan aku lakukan.
“Kamu tuh ya…udah punya istri
masih doyan yang lain. Ini cewek juga sama aja, gatel ngeliat suami sahabatnya
sendiri.” Rika memaki kami berdua dengan wajah merah padam.
“Terserah kamu lah…kamu mau
laporin aku sama Firda ke polisi…silakan. Mau laporin ke
Indah…terserah….”ucapku pasrah.
“Hmm…kalo aku laporin ke
Indah…kasian dia. Nanti dia kaget.Kalo ke polisi….ah…ngrepotin.” Rika
meninmbang-nimbang apa yang hendak dilakukannya.
“Gini aja mas. Aku gak laporin ke
mana-mana. Tapi ada syaratnya.” Rika memberikan tawarannya kepadaku.
“Apa syaratnya, Rik?”
“Nggak berat kok. Gampang banget
dan mudah.”
“Iya, apaan syaratnya?” Firda
ikut bertanya
“Terusin apa yang kamu berdua
tadi lakuin. Aku duduk disini, nonton. Bagaimana?”
“WHAT?” aku dan Firda berteriak
bebarengan. “Gila lu ya, masa mau nonton orang lagi ML?”
“Ya terserah kamu.Mau pilih
mana…?”Rika mencibir dengan senyum kemenangan.
Aku dan Firda saling
berpandangan. Kuhampiri Firda, kubelai tangan dan rambutnya. Firda seolah
memahami dan menyetujui syarat yang diajukan Rika. Segera saja kulumat bibirnya
yang ranum dan tanganku meremas pantatnya yang sekel. Firda segera membuka kaosnya.
Sambil terus berciuman dan
meremas pantatnya, kubimbing Firda menuju sofa. Kurebahkan ia disana, dan
dengan cekatan dilepaskannya kaos dan celana ku sehingga aku sekarang telanjang
bulat di hadapan Firda dan Rika.
Aku melirik Rika, yang duduk
menyilangkan kakinya. Kulihat wajahnya menegang seperti tegangnya tongkolku.
Aku tersenyum-senyum kearahnya, sambil memainkan dan mengocok-ngocok tongkolku,
seolah hendak memamerkan kejantananku.
“Ayo, ndrew…cepetan deh…udah gak
tahan, honey…”firda merintih. “Biarin aja si Rika…paling dia juga udah basah.”
“Enak aja kamu bilang.”sergah
Rika. “Udah buruan, aku pengen liat kayak apa sih kalian kalo ML.”
Aku menatap mata Firda yang mulai
sayu dan tersenyum. Setelah melepas seluruh pakaiannya, sempurnalah
ketelanjangbulatan kami berdua. Tak sabar, segera k usosor memiaw Firda yang
sangat becek oleh lendir birahinya.
“Achhhh….sshhhh….ooouufffffggg…Andreeeeewwwwww….”firda
menjerit dan mengerang menerima serangan lidahku. Pantatnya tersentak keatas,
mengikuti irama permainan lidahku.
Hmmm…nikmat sekali. memiawnya
berbau segar, tanda bahwa memiaw ini sangat terawat. Dan yang membutku girang
adalah lendir memiawnya yang meleleh deras, seiring dengan makin kuatnya
goyangan pinggulnya.
“Hmmmppppppff…Andrew…Andrew…sayaaaanngg..
akh…akh…akkkkkuu…”firda da terus merintih. Nafasnya tersengal-sengal, seolah
ada sesuatu yang mendesaknya. ‘Akku……mmmhhhhh…ssshhh….”
“Keluarin sayang….keluarin yang
banyak…..”aku berbisik sambil jari tengahku terus mengocok memiawnya, dan
jempolku menggesek itilnya yang sudah sangat keras. Baik itil maupun memiaw
Firda sudah benar-benar berwarna merah, sangat basah akibat lendirnya yang
meleleh, hingga membasahi belahan pantat dan sofa.
Baca Juga : Karena Sange Di Tempat Fitness
Segera aktivitas tanganku kuganti
dengan jilatan lidahku lagi. Hal ini membuatpaha Firda menegang, tangannya
menjambak rambutku, sekaligus membenamkan kepalaku ditengah jepitan pahanya
yang menegang. Aku merasakan memiawnya berdenyut, dan ada lelehan cairan hangat
menerpa bibirku.
“ANDREEEEEEWWWWWWW…..AAAAACCCCHHHHHHHHH……”Lin
da menjerit keras sekali, menjepit kepalaku dengan pahanya, menekan kepalaku di
selangkangannya dan berguncang hebat sekali.
Tak kusia-siakan lendir yang meleleh itu. Kusedot semuanya, kutelan semuanya.
Ya, aku tidak mau membuang lendir kenikmatan Firda. Sedotanku pada memiawnya
membuat guncanganLinda makin keras…dan akhirnya Firda terdiam seperti orang
kejang. Tubuhnya kaku dan gemetaran.
“Oooohhhh…Ndreww…aaachhh…..”Linda
menceracau sambil gemetaran.
“Enn..en….Nik…mat…bangeth….sssse….dothan…sama
jhiilatan kkk…kamu…”
Kulihat Firda tersenyum dengan
wajah puas. Segera kuarahkan bibrku m elumat putingnya yang keras dan
kemerahan. Meskipun sudah melahirkan dan menyusui dua anak, payudara Firda
sangat terawat, kencang. Dan putingnya masih berwwarna kemerahan. Siapa lelaki
yang tahan melihat warna putting seperti itu, apalgi sekarang puting merah itu
benar-benar masih keras dan mengacung meski pemiliknya barusan menggapai
orgasme.
“Shhh…Dreeewwww…iihhhh…geli….”
Lnda menggelinjang saat kuserbu putingnya. Aku tidak mempedulikan rintihannya.
Kulumat putingnya dengan ganas sehingga badan Firda mulai mengejang lagi.
“Acchhh….Andreww….sayaaaannggg…”Linda
merintih. “Terus sayang…iss…ssseeeppp…pen….til…kuhh…ooofffffhhhhhhh hh……”
Tanpa aba-aba, segera kusorongkan
tongkolku yang memang sudah mengeras seperti kayu ke memiaw Firda. Blessss…….
“Ahhhhkkk…..mmmmppppfff…..ooooooggggghhhh….”p
antat Firda tersentak kedepan, seiring dengan menancapnya tongkolku di mekinya.
Kutekan tongkolku makin dalam da n kuhentikan sejenak disana.
Terasa sekali memiaw Firda
berkedut-kedut, walaupun tergolong super becek.
“Ayo, ndre…..gocek tongkol
kamuh….akk….kkuuuu….udah mau…keluarrrrr…laggiiiihhh…”Linda merintih memohon.
Segera kugocek tongkolku dengan ganas. “crep.crep…cplakkk….cplaakkkk…cplaakkkk ….”
suar gesekan tongkolku dengan memiaw Firda yang sudah basah kuyup nyaring
terdengar. Tak lupa kulumat bibirnya yang ranum, dan tanganku menggerayang
memilin menikmati payudara dan putingnya.
Sesaat kemudian kulihat mata Lnda
terbalik, Cuma terlihat putihnya. Kakinya dilipat mengapit pinggul dan
pantatku. Tangannya memeluk ubuhku erat.
“ Firda menjerit keras dan
sekejap terdiam. Tubuhnya bergetar hebat. Terasa di tongkolku denyutan memiaw
Linda…sangat kuat. Berdenyut-denyut, seolah hendak memijit dan memaksa spermaku
untuk segera mengguyur menyiram memenya yang luar biasa becek.
Makin kuat kocokan tongkolku
didalam memiaw Firda, makin kencang pula pelukannya. Nafas Firda tertahan,
seolah tidka ingin kehilangan moment-moment indah menggapai puncak kenikmatan.
Karena denyutan memiaw Firda yang
membuatku nikmat, ditambah rasa hangat karena uyuran lendir memiawnya, aku pun
tak tahan. Ditambah ekspresi wajahnya yangmemandang wajahku dengan mata sayu
namun tersirat kepuasan yang maat sangat.
“Ayo nDrew…keluarin pejuh
kamu…keluarin dimemiawku….”Linda memohon.
“Kamu gak papa aku tumpahin pejuh
di rahim kamu?”tanyaku sambil terengah-engah.
“No problem honey…aku safe
kok….”sahut Firda. “C’mon honey..shot your sperm inside…c’mon honey….”
”aku merasakan pejuhku mendesak.
Kupercepat kocokanku, dan Firda juga mengencangkan otot memiawnya, berharap
agar aku cepet muncrat.
AAACCHHHHHHH………..”
Jrrrrrooooooooootttt…..jrrrrooooooooo ttttt..jrrrro ooooottttt…..tak kurang
dari tujuh kali semprotan pejuhku. Banyak sekali pejuh yang kusemprotkan ke
rahim Firda, sampai-sampai ia tersentak. Kubenamkan dalam-dalam tongkolku,
hingga terasa kepalaku speerti memasuki liang kedua.Ah….ternyata tongkolku bisa
menembus mulut rahimnya. Berarti pejuhku langsung menggempur rahimnya.
Ohhh…nDrreeeww…enak
sayang….nikmat, sayaaannggg…offffffghhhh……” Firda merintih lagi.
“Uggghhh…hangat sekali pejuh kamu, Ndrew…” ucap Firda. Setelah beristirahat
sejenak dengan menancapkan tongkolku dalam-dalam, secara mendadak kucabu tongkolku.
“Plllookkkkk….”
Kupandangi memiaw Firda yang
masih membengkak dan merah dengan lubang menganga. Firda segera mengubah posisi
duduknya dan…ceeerrrrrr……pejuhku meleleh. Segera saja jemari Firda meraih dan
mengorek bibir memiawnya, menjaga agar pejuhku tidak tumpah kesofa.
Akibatnya, telapak tangan Firda
belepotan penuh dengan pejuhku yang telah be rcampur lendir memiawnya. Dengan
pejuh di telapak tangan kanannya, Firda menggunakan jari tangan
kirinya,mengorek memiawny untuk membersihkan memiawnya dari sisa pejuhku.
“Brani kam telen lagi?”
tantangku.
“Idih…syapa takut….”firda balas
menantangku. “Nih liat ya….”
Clep…dijilatnya telapak tangan
yang penuh pejuhku…
“MMmmmm….slrrpppp….glek….aachhhh….”
Firda nampak puas menikmati pejuh ditangannya.
“Hari ini kenyang sekali
aku…sarapan pejuh kamu duakali..hihihihi…”Linda tertawa geli.
“Tuh…masih ada sisanya ditangan.
Mbelum bersih.” Sahutku.
“Tenang, NDrew..sisanya
buat…ini.” Sambil berkata begitu, Firda mengambil sebagian pejuhku dan
mengusapkannya diwajahnya.
“Bagus lho buat wajah…biar tetep
mulus…”sahut Firda sambil mengerling genit.
“Astagaaaa….kamu tuh,
Lin…diem-diem ternyata…”kataku terkejut.
“Kenapa…? Kaget ya?”
“Diem-diem, muka alim..ta pi kalo
urusan birahi liar juga ya..”
“Ya iyalaaahhh..hare gene, Ndrew…orang
enak kok ditolak.”
“Tau gitu tadi aku semprot dimuka
kamu aja ya..” sesalku
“Iya juga sih..sebenernya aku
pengen kamu semprot. Cuman aku dah gak bisa ngomong lagi…nahan enak sih..lagian
aku pengen ngerasain semprotan pejuh kamu di memiawku.” Firda tersenyum
“Eh, Ndrew…ssstttt…coba liat
tuh…jailin yuk…..”ajak Firda
Ya ampuuunnnn…aku lupa bahwa
aktivitasku tengah diamat Rika. Segera kulirik Rika, yang ternyata tanpa kami
sadari tengah beraktivitas sendiri.
yaitu dengan memasukan kedua jarinya ke rahim rika aktivitas seperti itu bisa disebut juga dengan masturbasi rika pun kulihat lihat rika pun merasakan kenikmatan yang didapat saat melakuan maturbasi otot otot mukannya menegang kelihatan seperti nafsu yang telah lama terpendam tidak dilampiaskan.



0 Komentar