Aku punya rencana kembali ke
Jakarta untuk urusan Imigrasi. Sheena gembira mendengar aku akan kembali ke
Jakarta. Tapi untuk ganti suasana, aku usulkan untuk bercinta di tempat lain
yang kami berdua belum pernah kunjungi. Setelah pilih-pilih tempat dan disesuaikan
dengan ukuran kantong kami, kami lalu memilih Kuala Lumpur, sekalian meninjau
Petronas Twin-Towers.
Jadilah aku terbang ke Jakarta.
Setibanya di Jakarta, Sheena langsung kukabari namun karena Sheena masih masuk
kantor dan aku pun sibuk urusan imigrasiku, kami baru bisa janjian ketemu pada
hari sabtu, padahal esoknya hari minggu sudah musti berangkat ke Kuala Lumpur.
*****
Singkat Cerita, kami berdua
bertemu di Cengkareng, tanpa ciuman dan gandeng tangan, kami menuju counter
check-in, tak lama kemudian kami berdua sudah duduk di kursi pesawat yang siap
berangkat ke Kuala Lumpur. Setelah pesawat mengudara dan seat-belt sudah boleh
dilepas, tangan Sheena mampir di pahaku, otomatis batangku jadi tegang. Karena
aku pakai Jeans, batang kemaluanku jadi agak sakit. Ia rupanya sudah paham.
“Adikmu sakit ya Mas?” tanyanya
bercanda sambil mengelus-elus pahaku. Batang kemaluanku menjadi semakin tegang.
Aku lalu meminta selimut kepada awak cabin, bukan kedinginan karena AC, tapi
supaya tidak ada yang lihat aku melonggarkan ikat pinggang dan menurunkan
resletingku. Karena pakai selimut tangan Sheena menjadi lebih berani masuk ke
celah resletingku, akhirnya mencapai batang kemaluanku yang masih ditutup
celana dalamku yang sudah basah setempat.
Meskipun Sheena sungguh pandai
dalam merencanakan rangsangan, posisi kursi pesawat tidak memungkinkan berbuat
macam-macam tanpa ‘bikin heboh’. Dengan terpaksa kutahan nafsu birahiku, tapi
aku tetap mau balas biar iapun jadi ‘susah’. Dari dalam selimut, tanganku
mengelus-elus dadanya. Sengaja aku tidak memasukkan jari-jariku ke dalam
bajunya, cukup kuelus dari luarnya saja. Setelah kulihat Sheena menjadi agak
“tidak tenang”. Ia mendengus pelan, “Enghh.. Hh..”
Tanganku kuturunkan ke pahanya
dan terus ke antara kedua pahanya. Aku berhasil membuatnya merasakan rangsangan
birahi yang aku tahu tak bisa disalurkan. Ia cuma bisa mendesah, “Hhh.. hh..
hh..”
Setengah perjalanan sudah
berlalu, kami berdua masih terus saling meraba dengan tujuan merangsang
pasangan masing-masing supaya pada ‘nggak tahan’ lagi. Tapi tiba tiba harus
kami stop karena ada seorang wanita meminta bantuan, rupanya TKW yang tidak
tahu cara mengisi kartu registrasi kedatangan untuk bandara Kuala Lumpur.
Karena terganggu nafsu kami jadi hilang dan kami berdua jadi senyum-senyum
sendiri.
Tiba di Kuala Lumpur, kami
langsung menuju hotel MLA di sekitar jantung kota Kuala Lumpur. Seperti
biasanya check-in, diantar oleh pelayan hotel ke kamar, pasang tanda DO NOT
DISTURB di gagang pintu, kunci pintu.
“Sayang.. akhirnya sampai juga
ya,” membuka keheningan.
Aku merasa badanku agak hangat
dan sendi-sendiku agak linu seperti mau sakit flu. Soalnya baru perjalanan jauh
dari Brisbane ditambah kemarin baru saja ML ‘keluar bareng’ di Jakarta.
“Ehm..”
Aku tahu kalu ia sudah malas
ngomong berarti aku harus tahu diri jangan kaya NATO (No Action Talk Only) yang
dulu. Kupeluk ia dengan lembut dan mesra dari belakang, kedua telapak tanganku
menelungkupi kedua buah dadanya, kucium belakang telinganya lalu turun ke leher
kanan, kukecup dan kusedot lehernya.
“Enghh.. sshh..,” ia mulai
mendesis, ia tak kuatir lagi akan tanda merah di lehernya.
Ciumanku perlahan pindah ke leher
kiri sambil kedua tanganku mengangkat bajunya ke atas. Ia mengangkat kedua
tangannya ke atas memudahkan bajunya dilepas keatas. Bajunya kulemparkan ke
kursi, aku lalu membuka bajuku sendiri.
Aku tetap berdiri dibelakang
Sheena, kini aku telah bertelanjang dada sedang tubuh bagian atas Sheena hanya
mengenakan BH. Kembali kupeluk ia dari belakang, bibirku mencium telinganya,
kedua tanganku bergerak naik dari perutnya kebawah buah dadanya. Perlahan
jari-jari tanganku menyelip keatas kedalam BHnya, langsung menangkup kedua buah
dadanya.
“Aduh.. Ari.. enak.. auuhh”
Tangan kiriku tetap terus
menyelip di dalam BHnya sedang tangan kananku bergerak keluar lalu ke
punggungnya, melepaskan Klip BHnya. Lepaslah BHnya, kini kedua tanganku bebas
memutar-mutar kedua putingnya secara bersamaan.
“Auh.. enghh..,” desisnya makin
jelas terdengar.
Sejenak kemudian ia mendadak
berbalik sehingga tanganku terlepas dari buah dadanya. Ia lalu mencium dan
melumat bibirku. Tanganku yang tadi terlepas sekarang telah menemukan kembali
kedua buah dadanya yang kini berada didepanku.
Kuelus-elus kedua buah dadanya
lalu kupencet lembut putingnya dengan ibu jari dan jari telunjukku.
Tanpa melepas ciumannya,
tangan-tangan Sheena membuka ikat pinggangku dan membuangnya ke kursi.
Resletingku diturunkan, otomatis
Jeansku jadi longgar, lalu Sheena turun berjongkok di depanku menurunkan
Jeansku yang sudah longgar itu. Batang kemaluanku sudah mengeras, ujung
kepalanya nongol sedikit dari atas celana dalamku yang berwarna merah.
Ia lalu menempelkan hidungnya ke
batang kemaluanku dari luar celana dalamku sambil jari telunjuk kanannya
disentuh-sentuhkan keujung kepala kemaluanku yang nongol dari celana dalamku.
Dengan telunjuknya itu, ia
oles-oleskan cairan beningku hingga merata ke topi bajaku, lalu dipelorotkan
celana dalamku akibatnya batang kemaluanku mental kedepan seperti pegas dan
mengenai hidungnya.
Ia mendongak dan memundurkan
sedikit hidungnya sambil membuka mulutnya, otomatis kepala kemaluanku jatuh
kedalam mulutnya.
Ia lalu menutup mulutnya dan
menghisap kepala kemaluanku sambil melirik keatas menatap mataku.
Oh.. nikmat sekali hisapan
mulutnya itu. Tanpa memegang batang kemaluanku, ia terus menghisap, mengulum
dan pelan-pelan memasuk-keluarkan kemaluanku. Sulit kunyatakan enaknya kuluman
dan hisapannya.
Setidaknya 15 menit aku terlena
dalam keadaan berdiri. Selang beberapa saat aku ingin gantian kerjain dia,
kuangkat, kugendong lalu kurebahkan tubuhnya terlentang diatas ranjang.
Aku sudah dalam keadaan telanjang
sedangkan ia masih memakai celana panjang meskipun bagian atasnya sudah tanpa
busana lagi.
Aku lalu berjongkok disisi bawah
tempat tidur, membuka ikat pinggangnya, menurunkan resletingnya lalu menarik
lepas Jeansnya.
Celana dalamnya kelihatan agak
lembab, segera aku tarik turun lewat kakinya. kini lengkaplah sudah ia
telanjang bulat dihadapanku.
Kutarik kakinya supaya pantatnya
rata dengan tepi tempat tidur dimana aku berjongkok.
Ia sudah dapat menebak apa yang
akan kulakukan makanya iapun membuka kedua pahanya.
Aku tahu kemaluannya sudah ingin
dijilati dan digelitiki oleh lidahku, tapi aku memulainya dengan menjilati
pangkal pahanya dulu, yang kanan lalu yang kiri, kemudian malah naik keperut.
Pantatnya bergerak-gerak, ia pun
menggeliat dan mengerang, “Emmhh.. uusshh”
Aku masih belum mau menjilati
vaginanya.
Sambil menciumi perutnya, kusibak
bulu-bulu kemaluannya sehingga tampak belahan bibirnya.
Jari telunjuk kananku kumasukkan
pelan-pelan kedalam lubangnya lalu pelan-pelan kuputar-putar sedangkan ciumanku
terus bergerak naik kedadanya.
“Auh.. aduh.. Ari.. kamu gila..”
Akupun jadi makin bernafsu,
kusedot puting kanannya sedangkan puting yang kiri kujepit dengan jari-jari
tangan kiriku sementara jari telunjuk tangan kananku masih tenggelam di dalam
lubang kemaluannya.
Sesekali kurasakan cincin
vaginanya menjepit jariku.
Meski dalam keadaan terangsang,
aku masih bisa terkagum-kagum, bagaimana mungkin jari telunjukku sekecil ini
bisa dijepit sekeras ini.
Kalau tidak merasakan sendiri
rasanya aku sulit percaya. Puting susunya terus kelumat, sedot dan di dalam
mulutku kujilati ujungnya.
Sheena hanya bisa memegang rambut
dan kepalaku sambil menahan kenikmatan yang menderanya.
Kini kurasakan sudah saatnya
mulutku kuturunkan dari buah dadanya, sasarannya adalah celah diantara kedua
pahanya. Kubuka kedua pahanya lebih lebar lagi sehingga belahan vaginanya ikut
sedikit membuka. Segera kubenamkan lidahku membelah celahnya. Kali ini ia
langsung menjerit “Awh.. uh..” mengejang, tak sadar badannya agak bangun
membungkuk keatas. Lidahku lalu menyapu belahannya itu keatas dan kebawah
sambil kedua tanganku mengelus-elus pangkal pahanya dan sekitar lubang
kemaluanya, sesekali kutekan-tekan gundukan bibir kemaluannya.
“Ouh.. Ari.. terus sayang..
uuhh.. sayang.. aduhh”
Seranganku kutingkatkan lagi,
dengan jari-jari tanganku kubuka lebih lebar lagi belahan vaginanya sampai
kulihat bagian dalam kemaluannya yang kemerahan. Segera kusapu lagi dengan
lidahku.
“Aawww.. Ri.. aduh.. terus
sayang..terus..aduh.. gila kamu Ri..”
Rasanya hampir 20 menit mulut dan
lidahku menempel dan menyapu lubang kemaluannya, sudah waktunya bagiku untuk
memasukkan penisku kedalam lubang kemaluannya ini. Kemaluanku pun sudah
mengeluarkan cairan bening dari tadi. Aku lalu bangun berdiri tetapi agak
berkunang-kunang karena terlalu lama jongkok. Tanpa buang waktu lagi, kuarahkan
penisku ke lubangnya yang sudah basah akibat liurku dan cairan vaginanya.
Bless.. masuklah batang kemaluanku ke dalam vaginanya. Rupanya ia memang
sengaja tidak ‘mengunci’ cincinnya itu dengan begitu tidak terlalu sulit untuk
menembusnya.
Dengan tetap berdiri di tepi
ranjang, aku bergerak memompa maju mundur. Lagi-lagi ia masih belum mau
menggunakan cincinnya itu sehingga aku masih dapat memompa maju mundur dengan
cepat, tetapi erangannya makin keras terdengar setiap batangku melesak masuk.
Aku terus memompa dengan cepat tanpa istirahat, aku berharap benar dengan gaya
baru kali ini aku dapat membuatnya ‘keluar’ lebih dahulu. Harapanku rupanya
cuma tetap jadi harapan, sudah lewat 25 menit sejak kumasukkan kemaluanku dan
bergerak non-stop mengocoknya begini, masih belum ada tanda-tanda ia akan
‘keluar’.
Karena ‘olah raga memompa maju
mundur’ ini kulakukan terus-menerus sembil berdiri, keringatku mulai keluar
membasahi tubuhku, pinggangku mulai capek, tapi kumantapkan niatku untuk
bertahan mengocoknya. Aku lalu bilang padanya, “Masih bandel juga ya? Aku
pengen liat, kamu atau aku yang keluar duluan.”
Baru selesai omong, tiba-tiba
kurasakan sulit untuk maju mundur karena batangku seperti dicengkram oleh
cincin vaginanya. Auhh.. kini giliran aku yang keenakan. Rupanya aku omong
terlalu sesumbar sehingga ia ingin ‘memberi pelajaran’ padaku. Batang
kemaluanku benar-benar seperti dicengkram dan diremas, seret sekali masuk
keluarnya. 15 menit kembali lewat, kini penisku sudah mulai berdenyut-denyut
rasanya kali ini kok aku bakal nggak kuat menahan jepitannya.
“Kamu capek Say? sekarang gantian
ya, lepas dulu dong, lalu kamu naik kesini sambil sandaran kedinding ya.”
Akupun mencabut batang kemaluanku dari vaginanya. Tanganku ditariknya agar aku
naik ke ranjang. Ia lalu bantu mendorong agar aku bergerak menyandar ketembok
dibelakang tempat tidur.
Setelah aku duduk disisi atas
tempat tidur sambil bersandar ketembok Sheena naik ke pahaku, berjongkok lalu
memasukkan batangku ke vaginanya, lalu pelan-pelan menurunkan tubuhnya hingga
duduk di selangkanganku. Ujung kemaluanku rasanya seperti mentok ke dinding
rahimnya.
Ia melingkarkan kedua tangannya
ke belakang leherku lalu bibirnya mencium dan melumat bibirku, kedua buah
dadanya terasa menekan dadaku. Kurasakan batang kemaluanku yang sedang terbenam
menjadi tambah mengeras dan berdenyut didalam kemaluannya.
Cengkraman cincinnya kembali mendera
batang kemaluanku, kini iapun menambah serangannya dengan menaikturunkan
tubuhnya sambil ‘cincin’ vaginanya menjepit kemaluanku sedang mulutnya mengunci
mulutku. Kedua buah dadanya menekan dan menggesek dadaku.
Dalam kurang dari 15 menit aku
sudah dibuat megap-megap menahan serangannya. Iapun berhenti naik turun untuk
meberi aku napas, namun cincin vaginanya tetap ia rapatkan.
Aku sungguh heran, bagaimana ia
bisa mempertahankan kontraksi cincinnya non-stop selama itu. Ia tersenyum penuh
kemenangan, katanya “Kalau aku mau sekarang ini kamu sudah kalah”
Dalam hati aku mengakui bahwa ia
benar. Aku pun menjawab, “Ok, akhirnya kamu menang.”
Aku masih heran kok aku bisa dikalahkan dalam total waktu hanya sekitar 1 jam 30 menit, padahal biasanya ‘pertarungan’ku dengan Sheena umumnya mencapai total 4 atau 5 jam, itupun selalu berakhir seri 1 – 1 karena sama sama sepakat mengalah untuk ‘keluar’. Aku masih belum sadar bahwa aku sudah mulai kena flu sejak tiba di Airport tadi dan sampai sekarang belum istirahat.
Sheena mencium keningku, pipiku
dan bibirku, sambil terus mempermainkan cincin vaginanya. Jepit, longgar,
jepit, longgar, mungkin istilahnya empot ayam. Ia tidak menaikturunkan
pantatnya karena ia sadar akan kondisiku yang hampir di puncak, namun ia mau
agar aku merasakan nimatnya ‘proses ke puncak’ tanpa sampai ‘kelewatan’.
“Udahan dulu ya, kita mandi yuk,
kan dari Jakarta sampai sekarang belum mandi,” tawarnya.
“Boleh.. biar istirahat dikit..
kamu nyalain dulu airnya ya biar bath-tub nya terisi,” kataku.
Ia menaikkan pantatnya melepas
batang kemaluanku dari vaginanya lalu turun dari tempat tidur menuju kamar
mandi dan menghidupkan kran air di bath-tub. Aku kemudian bangkit juga menuju
ke kamar mandi. Kulihat ia sedang duduk di closet membersihkan vaginanya yang
basah dengan campuran cairan beningku dan lendir vaginanya.
Meski air dalam bath-tub belum
terlalu dalam, aku langsung masuk dan duduk berendam sambil bersandar pada
dinding bath-tub. Batang kemaluanku yang masih keras itu pelan-pelan melemas
setelah terendam dalam air.
Sheena pun masuk ke bath-tub dan
ikutan duduk berendam. Iseng-iseng tangannya mengelus-elus batang kemaluanku
untuk membersihkan lendir yang melekat di batang kemaluanku. Elusan jari-jari
tangannya membuat kemaluanku kembali menegang.
Ia tertawa kecil saat merasakan
‘anuku’ berdenyut mengeras di tangannya. Setelah dilihatnya kemaluanku sudah
bersih, ia bilang, “Coba mundur dikit dong”. Akupun bergerak mundur dan
bersandar pada ujung bath-tub untuk memberi ruang yang lebih panjang baginya.
Ia lalu mencabut sumbat bath-tub
sehingga airnya pelan-pelan berkurang. Setelah airnya hampir habis, turun
hingga setinggi biji kemaluanku, sumbatnya dipasang lagi. Kini batang
kemaluanku berada di atas permukaan air sedangkan biji kemaluanku setengah tenggelam.
Tangannya kembali mengelus-elus
batangku, lalu ia mengambil posisi nungging di depanku. Pelan-pelan kepalanya
diturunkan dan mulutnya diarahkan ke kepala kemaluanku.
Mulutnya membuka lalu mencaplok
kepala kemaluanku, tangan dan siku kirinya dipakai menunjang tubuhnya agar
tetap menungging sedang jari-jari tangan kanannya mengocok batang kemaluanku
maju mundur.
Mulutnya sampai kempot menyedot
kepala kemaluanku. Aduhh.. rasanya sungguh luar biasa.
Sesaat kemudian, jari-jari tangan
kanannya bergerak maju memegang pangkal batang kemaluanku sambil mulutnya
bergerak maju-mundur. Nikmat yang kualami sungguh tak terbilang.. ini adalah
oral seks yang ternikmat dalam hidupku. Sampai saat ini masih yang ternikmat
bagiku.
Mulutnya terus maju mundur sampai
batangku kelihatan memerah, kemudian fokusnya dialihkan ke sekitar leher
kemaluanku.
Dihisap-hisapnya kepala
kemaluanku sampai dilehernya, digigit-gigit kecil belakang topi bajaku,
lidahnya disapu-sapukan kelilingnya, lalu kepala kemaluanku dicaplok dan disedot
dengan kuat lalu dikulum-kulum.
Lidahnya menari-nari didalam
mulutnya menyentuh-nyentuh lubang pipisku.
Setelah itu kembali ia maju
mundurkan mulutnya namun hanya sampai dilehernya saja, tidak sampai kepala
kemaluanku keluar.
Rupanya Sheena ingin menunjukkan
bahwa tidak hanya vaginanya saja yang bisa ‘mengalahkanku’, ia ingin
‘mengalahkanku’ dengan mulutnya. Ia terus-menerus menjilat, mengulum dan
menghisap batang kemaluanku hingga aku benar-benar merem melek dibuatnya.
Tetapi pada dasarnya aku memang
tidak pernah bisa ‘keluar’ dimulut wanita jika tidak kupaksakan sendiri untuk
‘keluar’ (Istriku pernah menyedotku selama 45 menit hingga lehernya pegal dan
aku tetap tidak keluar), namun Sheena tak tahu akan kebiasaanku ini sehingga ia
berpikir aku pasti ‘keluar’ oleh serangannya.
Setelah hampir 20 menit non-stop
menyerangku, ia melirikku lalu melepaskan mulutnya dari kepala kemaluanku.
“Enak nggak?” tanyanya sambil
tangan kanannya tetap memegang batangku.
“Ini yang paling enak dari
semuanya,” kataku.
“Naik lagi ke tempat tidur yuk..
tapi gendong ya.. capek sih,” katanya.
Aku keluar dari bath-tub lalu
menariknya agar bangun kemudian menggendongnya ke ranjang.
Kami sudah tidak perduli lagi
bahwa tubuh kami masih setengah basah.
Aku kembali berada diatasnya
dengan posisi push-up, ia membimbing batang kemaluanku masuk ke lubangnya,
bless.. masuklah batangku.
Ia memekik, “Awk..” agak sakit
karena masih seret.
Aku terus memacu pantatku
menyodok lubang kemaluanku.
Disetiap hentakan pantatku ia
selalu heboh “Awww..awww..”
Rasanya 15 menit berlalu,
kemaluanku rasanya sudah berdenyut-denyut lagi, artinya aku sudah hampir di
puncak.
Agar tidak kalah, aku kurangi ke
cepatanku lalu aku minta ganti posisi.
Sambil menjaga agar kemaluanku
tidak lepas, kami berbalik, kini ia berada diatasku. Sejenak ia hanya duduk
saja diatasku tidak bergerak.
Ia rupanya menikmati denyutan
batang kemaluanku. Kurasakan jepitan vaginanya meningkat seakan-akan memeras
batangku.
Setelah hampir 10 menit kemudian.
Ia melihat aku sudah ‘hampir
sekarat’ karena permainan jepitan vaginanya, ia lalu meletakkan kedua lenganku
ke atas kepalaku dan dipegangnya dengan kedua tangan kanannya yang juga untuk
menopang tubuhnya.
Mulutnya diturunkan mencium
bibirku sambil pantatnya mulai dinaik-turunkan. Puting buah dadanya yang
bergantung-gantung menggesek-gesek dadaku menambah sensasi nikmat serangannya.
Saat kemaluannya ditarik sampai
ke leher kemaluanku jepitannya dilonggarkan, saat mau diturunkan dikeraskan
lagi dan seterusnya.
Kini aku benar-benar ‘sudah
sekarat’.
Ia justru mempercepat gerak naik
turun pantatnya.
Aku mencoba mati-matian bertahan,
setiap kali pantatnya diturunkan, aku mengejang dan mendengus “Enghh.. enghh..
enghh.. enghh,” tetapi aku tidak mampu bertahan lagi.
Rasanya kurang dari 5 menit
setelah ia mempercepat naik-turun sambil menjepit, kemaluanku berdenyut-denyut
dan akhirnya, “Uhh..” pertahananku jebol, aku muncrat di dalam lubang
kemaluannya.
Disaat kemaluanku berdenyut
menyemprot air maniku, ia terus naik turun dan mengeraskan cincin vaginanya.
Lemaslah tubuhku, seluruh
otot-ototku rasanya terlepas dari tulangku, kenikmatannya betul-betul enak.
Sheena tidak langsung bangkit, ia
hanya berbaring di dadaku dengan batang kemaluanku masih menancap di vaginanya.
Pelan-pelan batang kemaluanku
melemas.
Campuran sperma dan lendirnya
mengalir keluar dari lubangnya, meleleh ke selangkanganku dan ke sprei ranjang.
Ia menggeliat ke telingaku dan
berbisik “Satu nol ya..,” sambil tersenyum.
Tubuhku rasanya agak lemah, tapi
aku masih saja berpikir “Ah tidak apa-apa, mungkin sebentar lagi juga pulih.”
Hari kedua dan seterusnya kami
tetap hangat bercinta. Sesekali aku masih bisa “menang” namun lebih banyak
“kalah”.
Tubuhku sudah tambah lemah, aku
akhirnya sadar sudah jatuh sakit.
Di hari ke delapan terakhir
sesaat sebelum meninggalkan hotel menuju bandara, aku masih nekat
‘menantangnya’ lagi dengan kekuatan terakhir, hasilnya aku ‘kalah’ lagi. Aku
sudah tak ingat berapa skor akhir kami, yang jelas aku ‘kalah’.
Dibandara kami berpisah,
pesawatku berangkat dahulu kembali ke Australia sedangkan Sheena sejam kemudian
kembali ke Jakarta.
Dipesawat suhu tubuhku kian naik,
otot-otot tubuhku rasanya linu dan tidak bertenaga. 7 jam perjalanan cuma bisa
di kursi saja tambah menyusahkan.
Setibanya di rumah, aku
benar-benar jatuh sakit, sempat muntah-muntah pula.
Untung waktu cuti kerjaku belum
habis sehingga tidak perlu ditambah dengan cuti sakit lagi. Tetapi yang paling
sebal, aku penasaran dikalahkan oleh Sheena, telak lagi.
Seharusnya aku istirahat terlebih
dahulu setelah tiba di Kuala Lumpur hingga flunya hilang dulu dan tidak
langsung ngajak ‘perang’, toh masih ada hari-hari esoknya.
Sayangnya aku tidak dapat
membalas kekalahanku karena itulah terakhir kalinya aku bertemu dengannya.
Pada kedatanganku ke Jakarta yang
berikutnya, aku tidak dapat menemuinya. Padahal aku ingin sekali mengulangi
kejadian waktu itu.



0 Komentar