Ria adalah seorang mahasiswi asal Pekalongan, Jawa Tengah,
Aku mengenalnya ketika kami sama-sama menjadi peserta dalam kegiatan workshop
bagi mahasiswa/i. Dia peserta dari sebuah sekolah tinggi ekonomi di kota S,
sedangkan aku dikirim mewakili kampusku.
Selama workshop, sebenarnya aku sudah mulai merasa kalau dia
memperhatikanku, tapi aku juga tahu kalau dia sudah punya seorang cowok.
Sehingga hubungan kami saat itu hanya sebatas SMS. Sampai pada satu jumat malam
di bulan November tahun 2016, Ria menelponku. Intinya dia mengatakan bsok pagi
akan ke kota Y dan minta aku menjemputnya di terminal.
Perkiraan kalau dia berangkat dari Kota S jam 7, maka jam 10
atau paling lambat jam 11 dia akan tiba di Y. Keesokan harinya pukul 10 pagi
aku sudah stand by di terminal bis antar kota di kotaku. Saat sedang
mencari-cari, tiba-tiba saja dari belakang Ria mengagetkanku.
Dia tidak banyak berubah, tinggi 168 cm, rambut sebahu,
bentuk wajahnya tirus mirip seperti artis Nia Ramadhani, namun tubuh Ria lebih
berisi, terutama dengan payudara yang berukuran 34 B. Saat aku terpana melihat
tubuhnya, dia tiba-tiba saja memelukku. “mas, aku kangen. Pengen banyak cerita
sama kamu, pengen tukar pikiran dan diskusi kaya saat workshop dulu” ungkapnya.
“iya..iya..udah ah, ga enak diliat orang banyak” kataku sambil
melepaskan pelukannya. “Mau nginap dimana kamu malam ini? Masak mau langsung
pulang ke S?”tanyaku. “aku nginap di kost mas Ari aja boleh khan?”jawabnya.
“mana boleh non, bisa digrebek ama orang kampong” jawabku. Akhirnya dia sepakat
akan tidur di sebuah hotel melati dekat kostku, biayanya aku bantu setengah,
karena dia juga tidak membawa banyak uang.
Singkatnya, setelah Ria mandi dan berganti pakaian kami
berjalan-jalan keliling kota Y, selama perjalanan, dia banyak bercerita tentang
hubungannya dengan cowoknya yang mulai banyak ketidak cocokan dan sering
diwarnai pertengkaran.
Setelah makan malam, jam 9 malam aku mengantarkan dia
kembali ke hotel tempatnya menginap. Setelah itu aku kembali ke kostku. Pukul
setengah 11 malam Ria menelponku. “mas, aku ga bisa tidur, hotelnya serem, mas
Ari kesini donk, temanin aku” pintanya.
Maka aku pun langsung menuju hotel itu. Ketika menuju kamar
Ria, aku sempat melihat beberapa pasangan chek in, ada yg masih muda, ada pula
yang sudah berumur. Pahamlah aku bahwa hotel ini termasuk hotel esek-esek yang
banyak dibicarakan teman-teman kampusku.
Kamar yang ditempati Ria berada di ujung lorong, sehingga
terlihat memang lebih luas, Ria masih belum ganti baju, “aku mau k kamr mandi
takut mas, lampunya kecil” jawabnya ketika kutanya kenapa ga ganti baju. “Ya
udah, aku disini, kamu cuci muka trus ganti baju tidur ya” kataku.
Sementara aku tiduran diatas spring bed, ternyata karena
takut (atau entah sengaja) Ria ganti baju tanpa menutup pintu kamar mandi,
tentu saja aku bisa melihatnya dari kaca besar di depan pintu kamar mandi. Dari
situ aku melihat Ria hanya mengenakan celana dalam, tanpa BH di balik daster
tidurnya.
Dengan menggunakan daster, Ria naik ke atas spring bed dan
berbaring di sebelahku. Sedikit ja’im aku kemudian duduk, “kamu mau tak
tungguin disini atau aku pulang aja ke kost?” tanyaku. “Mas Ari disini aja,
khan kita ga ngapa-ngapain” jawabnya.
Aku pun turun dari spring bed dan duduk di kursi berlengan
yang ada dalam kamar itu. “lho, kok di situ sich? Disini aja ama aku. Khan
tempat tidurnya masih luas” protes Ria. Dari pada diprotes terus (dan karena
memang ngarepin) aku pun kembali berbaring di sebelahnya.
Lama kami terdiam, aku kira dia sudah tertidur, sehingga aku
kemudian membuka ikat pinggang dan retslueting celana jeansku, karena aku
memang tidak biasa tidur dengan celana jeans, Bahkan kadang aku tidur hanya
dengan celana pendek, tanpa celana dalam. “kenapa mas? Sesak ya?” Tanya Ria yg
ternyata belum tidur.
“iya, aku ga biasa tidur pakai jeans” jawabku. “ya udah,
celananya dibuka aja, mas Ari pakai selimut ini lho” kata Ria lagi smbil
menyerahkan selimut dan kemudian membalik badannya. Jadilah aku hanya bercelana
dalam berbungkus selimut tidur disamping Ria.
Sekitar jam 3 dinihari, aku terbangun karena seperti
mendengar suara tangis. Ketika kubuka mata, ternyata di depanku Ria menangis
sambil memandangku. Aku yang bingung kemudian bertanya kenapa, bukannya
menjawab, tangis Ria justru makin kuat. Khawatir diduga melakukan kekerasan
oleh orang diluar kamar, aku menarik Ria dan mendekapnya.
Ria memelukku erat dan bercerita bahwa awal mula tidak
harmonisnya hubungan antara dia dengan cowoknya karena cowoknya memaksa dia
untuk berhubungan badan. Benar-benar iba, aku pun mendekapnya dalam pelukanku.
Lupa kalau saat itu aku hanya memakai celana dalam.
Makin lama saling berpelukan, kami pun makin terbawa
suasana, dari hanya saling memeluk dan berpandangan, perlahan bibir kami mulai
saling mendekat dan berpagutan, rasa asin dari air matanya tak kurasakan, yang
ada hanyalah nafsu, Ria pun mulai menunjukkan hal yang sama.
Nafasnya makin memburu, permainan lidahnya makin agresif,
bahkan gerakan tangannya mulai meremas lengan dan kaos yang kukenakan.
Remasannya makin lama malah menarik kaosku ke atas, seolah meminta aku
melepasnya, maka kubuka kaosku dan tinggal bercelana dalam dihadapan Ria.
Melihat dadaku yang ditumbuhi bulu halus, Ria keliatan makin bernafsu, dia
memegang dadaku dan meremasnya, aku pun merasa tak perlu berbasa-basi lagi,
maka segera kutarik keatas pula dasternya, sehingga dia pun hanya tinggal
memakai celana dalam.
Kami sempat saling memandang, “mas, aku pernah menolak
L***** untuk ML sama aku, sampai dia memaksaku dan bahkan mendekap mulutku
dengan bantal, tapi sekarang aku ikhlas mas, kalau kamu mau jadi pacarku, aku
ikhlas menyerahkan diriku ke kamu malam ini” kata Ria sambil menangis. Aku
tidak menjawab, aku kembali menariknya ke pelukanku, memberinya waktu untuk
melepaskan semua beban yang ada dihatinya. Namun tak lama kemudian, dia mulai
kembali menciumi bibirku.
Kami pun kembali saling berpagutan, kali ini tidak ada lagi
ja’im di benakku. Sambil tetap berciuman bibir, tanganku mulai meremas-remas
toket dan pantatnya. Dia yang mulanya hanya meremas lengan dan dadaku, perlahan
tangannya turun tapi terhenti di atas perutku. Karena tak sabar, langsung
kuarahkan tangannya untuk memegang kontolku.
Dan dia pun menggenggam kontolku dengan kuat. Bibirku mulai
turun ke lehernya, kugigit pelan dan kuhisap-hisap sehingga meninggalkan bekas
merah di kulitnya yang putih, terus aku turun dan mulai mendekati dadanya,
kuhisap toketnya, sambil terkadang kupilin putingnya bergantian, dia makin
bergoyang liar remasan-remasan tangannya mulai membuat perih di tubuhku. Aku
terus menggigit-gigit pelan dan menghisap tubuhnya, turun ke perut dan terus
turun, sampai pada batas atas celana dalam hitam yang dikenakannya.
Aku berhenti, dan memandangnya, “boleh aku buka?” tanyaku,
dia mengangguk dengan menatapku sayu. Dengan kedua tangan kubuka penghalang
terakhir antara aku dan lubang kenikmatannya, bulu-bulu jembutnya tipis dan
wangi menunjukkan dia rajin merawat propertinya itu.
Belahan memeknya masih sangat rapat, kuminta dia untuk
melebarkan kedua kakinya, dia sempat menolak, “malu mas” tapi setelah aku
sedikit memaksa, di pun mulai melebarkan kedua kakinya, menunjukkan bagaian
dalam memeknya yang berwarna merah muda.
Langsung kucium, kujilat dan kuhisap-hisap semua bagian
memeknya, mulai bagian labia mayora (bener ga sich itu namanya?) sampai
klitorisnya yang berbentuk benjolan sebesar kacang tanah. Dan akibatnya, Ria
seperti kesetanan, pinggulnya naik-turun berusaha menghindari seranganku ke
memeknya, “udah mas, udah.. geli..aku geli…” tukasnya. Tapi aku pun terus berusaha
merapatkan bibirku ke titik sensitive itu.
Dan tiba-tiba dia berkata “maasss, aku…mau.. pipis….” belum
sempat aku menarik kepalaku dari pangkal pahanya, justru kedua paha itu
menjepit kepalaku, kedua tangannya menekan kepalaku semakin mendekati memeknya dan
pinggulnya diangkat tinggi-tinggi.
Dia mendapatkan orgasme pertamanya setelah ku rangsang dan
ku oral selama 15 menit. Tak ayal cairan memeknya pun membasahi hidung dan
mulutku. Aroma dan rasa yang khas membuatku makin bernafsu terus kuhisap semua
cairan yang keluar dari lubang itu sampai habis.
Setelah jepitan pahanya agak melonggar, aku langsung kembali
ke sampingnya. Kucium bibirnya sambil kubelai-belai toketnya. “Enak, ga ?”
tanyaku. “Enak banget, aku sampai lemes banget. Mas Ari pasti udah sering ya,
kok pengalaman banget?” tanyanya *dalam situasi seperti ini, kalau aku jujur
aku sudah pernah ML sama 3 cewek sebelum dia bisa merusak suasana* maka kujawab
“ aku baru pertama sama kamu ini kok.
Aku Cuma sering liat BF aja” “wah, pantes, belajarnya dari film” kata Ria sambil tersenyum dan memelukku. Setelah 1 menit, dia mencium bibirku dan bertanya “sekarang aku mesti gimana buat gentian muasin mas Ari?” Aku pun tersenyum dan melirik kontolku yang kepalanya sudah keluar dari batas celana dalamku.
Dia tersenyum, lalu mulai bergerak membuka celana dalam yang
aku kenakan. Dia memegang kontolku lalu bertanya “mau diapain ini mas?”
pertanyaan lugu yang menggoda, tapi karena malas basa-basi lagi aku pun
menjawab “masukin ke memekmu donk, tapi sebelumnya diisep dulu” dia tersenyum,
lalu mulai mengocok pelan kontolku. Setelah agak keras, dia mulai memasukkan
junior ke dalam mulutnya dan menghisapnya, tapi karena memang belum pernah
(setidaknya menurut pengakuannya) maka rasanya pun tidak terlalu enak.
Agak sakit malah, karena beberapa kali menyentuh giginya.
“jangan kena gigi donk yang, sakit” kataku. “aduh mas, sorry, aku ga bisa kaya
gini” jawabnya “Mas langsung main aja yah, aku pasrah kok” katanya. Lalu dia
berbaring disampingku sambil membuka kedua kakinya.
Melihat posisi itu, aku pun bangkit, kujilati sebentar
klitorisnya supaya agak basah, dia mulai mendesah pelan. Kubasahi juga ujung
kontolku dengan sedikit air liur, lalu mulai kugesek-gesekkan di depan lubang
memeknya. Meski mengaku sudah tidak perawan karena paksaan mantan cowoknya,
ternyata lubang memek Ria sangat sulit ditembus. Masih sangat sempit, dan aku
ga tega ketika sedikit memaksa mendengar dia menjerit tertahan, “aduh mas,
sakit mas…” maka kutunda lagi memasukkan kontolku dalam memeknya.
Sambil tetap kugesek-gesek, aku mulai mendorong ketika
kurasa sudah cukup basah, berhasil masuk kepala kontolku masuk kedalam
memeknya. Di sinilah aku merasakan perbedaan antara memek Ria dengan memek
milik Ika, Icha dan Eta yang pernah kurasakan seblumnya.
Kalau memek lain kenikmatan itu sangat terasa ketika aku memasukkan kontolku dalam-dalam, maka memek Ria terasa sangat menjepit justru ketika baru sepertiga kontolku masuk. Maka aku pun, hanya menggerakkan kontolku maju mundur di titik itu.
Namun berbeda dengan yang kurasakan, Ria justru sangat
kesakitan dengan cara itu. “mas, cabut dulu mas. Sakit mas” ujarnya. “ya,
bentar yah, aku enak bgt nich sayang” kataku. Dia seperti menahan rasa sakit,
bibirnya digigit. “mas, udah dulu donk…sakit nich, perih…” katanya lagi.
Sebenarnya aku ga tega, tapi aku pun merasakan kenikmatan dengan hanya bermain
di permukaan memeknya itu. Akhirnya aku mengalah dan memutuskan untuk mencabut
kontolku dari memeknya.
Namun sebelum mencabut, aku ingin mencoba memasukkan
keseluruhan batang kontolku dalam memeknya, maka kudorong penuh kontolku ke
dalam memeknya, sedalam aku bisa, namun ternyata mentok dan aku bisa bisa
merasakan dinding rahimnya tepat di depan kepala kontolku.
Saat itulah aku merasakan perubahan pada diri Ria. Dia yang
semula menahan sakit sambil menggigit bibir dan memejamkan mata, tiba-tiba
matanya terbuka lebar, mulutnya menganga tertahan. “mmmaaaassssss……” suaranya
tertahan dan bergetar. “Eeennnnnaaaaakkkk bbaaaannggeeettttt
mmmaaasss….”katanya. Tangannya mencengkram erat kedua lenganku.
Sesaat kemudian dia berubah makin liar, setiap kali aku
tarik mundur kontolku, dia justru memajukan memeknya seolah tidak mau
melepaskan sedikit pun kontolku dari memeknya. Tangannya memelukku erat,
kemudian tubuhnya tiba-tiba mendorongku berguling ke kanan sehingga sekarang
dia berada di atas tubuhku.
Dia tetap memelukku erat sambil menggoyangkan pinggulnya ke
semua arah, maju-mundur, kanan-kiri, depan-belakang bahkan diselingi memutar,
aku yang merasakan perubahan ini kemudian mulai mengatur posisi, kuluruskan
kedua kakiku dan menbiarkan tubuh Ria menguasaiku, dia menggerakkan pinggulnya
ke segala arah bagai kesetanan, aku berusaha mengimbangi gerakannya dengan
melawan arah setiap gerakan pinggulnya.
Tetes keringat kami membasahi kasur, tapi keganasan Ria
seolah tidak akan berakhir. Beberapa saat kemudian tiba-tiba dia menekan
dalam-dalam pinggulnya. Tangan kanannya mencengkram lengan kiriku dan tangan
kirinya menjambak rambutku.
Kontolku seperti diremas-remas dengan kuat oleh memeknya dan
dia menjerit tertahan “aaaaaccchhhh……” tubuhnya mengejang, kaku sesaat lalu
ambruk diatas tubuhku. “enak banget mas..enak banget….aku pengen ******* terus
ama kamu kaya gini. Enak banget” ujarnya berbisik di telingaku.
Aku hanya tersenyum mendengar kata-katanya, sementara Ria
masih terbaring lemas diatas tubuhku, kontolku yang masih menancap dalam
memeknya bergerak-gerak mencari perhatian ;p dia pun merasakannya, dan mulai
bangkit.
“mas, aku lemes banget, mas diatas aja dech, aku pasrah.
Udah lemes bgt nich”katanya. Dia lantas menjatuhkan tubuhnya, dan sambil
membuka lebar tangan dan kakinya, dia berkata nakal “aku pasrah mas, perkosa
aku, nodai diriku sepuasmu…..” sambil tersenyum nakal.
Aku pun langsung, naik ke atas tubuhnya. Sengaja kuangkat
kedua kakinya sambil kulingkarkan di pinggangku. “gini, biar kerasa makin enak”
kataku, sesaat kemudian aku mulai mendorong kontolku masuk dalam memeknya.
Ini perbedaan kedua antara memek Ria dengan memek lain yang
pernah kurasakan, meski basah karena cairan orgasme sebelumnya, tapi ketika
kumasukkan, tetap aja kontolku rasanya seperti dijepit dengan kuat. Aku pun
mulai menggoyang pinggulku maju-mundur.
Setelah melihat liarnya Ria saat kumasukkan dalam kontolku,
dan merasakan kenikmatan memeknya saat di permukaan, maka kucoba memainkan
masuknya kontolku dengan ritme 3 plus 1, yaitu tiga kali aku dorong dengan
hanya memasukkan sepertiga kontolku, dan kemudian satu kali dorongan dalam yang
memasukkan kontolku sedalam-dalamnya sampai terasa mentok di dinding rahim Ria.
Dan efeknya, meski mengaku sudah lemas, tapi tiap kali aku
dorong dalam kontolku dalam memeknya, tubuh Ria seperti mengejang. Pinggulnya
ikut terangkat tiap kali aku menarik kontolku, dan suaranya tertahan
“mmaaasss….” Dia terus meremas lenganku dan menggigit kuat bibirnya sendiri.
“mmmaaasss, jangan nyiksa aku doonkk… masukin yang daallleeem dddooonnkkk….” Pintanya dengan mata sayu menatapku dan suara bergetar. Karena kasihan, aku pun langsung menaikkan ritme goyanganku dengan mendorong dalam kontolku dalam memeknya.
Baca Juga : Rela Digenjot Oleh Para Penjaga Pos
Dan Ria kembali kesetanan, dia membalas setiap tusukan
kontolku dengan gerakan pinggul yang ke segala arah, bahkan tangannya meremas
erat kedua pantatku sambil menakannya agar makin dalam masuk dalam memeknya.
“mmass, dalam lagi mmaaass, masukkiinn dalem lagi…eennaakk bangeettt
masss….”ujarnya.
Dan gerakan pinggulnya pun kurasakan makin terasa nikmat
ketika memeknya terasa memijat dan meremas-remas kontolku, dan ini membuat aku
pun mulai merasakan cairan lahar putih akan mulai muntah dari kontolku. “Ria,
aku mau keluar sayang, aku tarik yah” kataku.
Ria mengangguk, namun gerakan pinggulnya dan tangannya
berkata sebaliknya, pinggulnya justru makin terangkat ke atas, sedangkan
tangannya makin menekan pantatku untuk makin masuk ke dalam memeknya. Sementara
didalam pun kontolku terasa makin kuat disedot, diremas dan dipijat otot-otot
memeknya. Akhirnya karena tak tahan aku pun memuntahkan pejuhku dalam memeknya.
Crot.. crot.. crot..dan sedetik kemudian Ria kembali
mengejang, badannya kaku dengan posisi tangan menekan pantatku agar makin
mendorong masuk kontolku dalam lubang memeknya. “mmaaasss….aaaccchhhh….eeennna
aakkkk” teriaknya tertahan dengan suar bergetar. Aku segera mencabut kontolku
dari memeknya dan menjatuhkan badanku disampingnya.
Kulirik jam di HPku, jam 7 kurang 20 menit. Berarti sekitar
3,5 jam kami memadu kasih dan mengejar surga dunia. Aku mencium bibirnya sambil
meremas toketnya. “Aku sayang kamu, mas…” kata Ria. Kami pun kembali tertidur
sampai jam 10 pagi Setelah itu kami mandi bersama. Setelah sarapan aku kembali
mengantar Ria ke terminal bus untuk kembali ke kota S.
Sejak saat itu, aku berpacaran dengan Ria. Hubungan kami
sempat berjalan selama sekitar 2 tahun, sampai akhirnya dia dijodohkan dengan
seorang pria tetangga kampungnya di Pekalongan. Sekarang dia telah memiliki 2
anak dan tinggal di kota S.
Yang tidak pernah Ria tahu, bahwa dia bukan wanita pertama
yang bercinta denganku, dan bahwa selama 2 tahun hubungan kami pun aku beberapa
kali bercinta dengan wanita lain.

0 Komentar