Nama panggilanku Sari. Aku berusia 25 tahun dan bekerja di
sebuah perusahaan swasta di Surabaya pada posisi yang cukup menyenangkan baik
secara status maupun secara ekonomi. Aku seorang blasteran Jawa-Jepang, namun
secara fisik, banyak orang mengira aku keturunan Chinese karena warna kulitku
putih dan mataku tidak lebar.
Rambutku pendek seleher. Aku tergolong wanita yang kurus
dengan tinggi badan 172 cm dan berat 51 kg. Namun aku merasa memiliki bentuk
tubuh yang bagus, dengan kaki yang panjang, dan payudara yang tidak besar namun
padat dan kencang.
Sejak remaja, kehidupan seksualku tergolong cukup ‘bebas’ untuk orang Indonesia. Selama aku cocok dan dia cocok, aku easy going sajalah. Mungkin sikap ini juga yang membuatku belum mendapatkan pasangan ‘resmi’ hingga sekarang, tapi.., peduli amat? aku toh enjoy aja dengan ini semua.
Waktu itu akhir bulan Juni 2015. Karena akhir bulan, seperti
biasa aku sibuk membaca dan mengevaluasi laporan hasil kerja anak buahku, dan
menuliskan laporan untuk atasanku. Karena waktu sudah sangat sempit, aku
memutuskan untuk bekerja overtime sampai selesai. Gedung perkantoran tempatku
bekerja tergolong pelit, mereka mematikan lampu dan listrik utama setelah lewat
pukul enam sore.
Karena itu aku menyewa sebuah ruang khusus yang memang
disediakan gedung itu untuk orang-orang yang ingin lembur. Ruangan itu kecil
sekali, sekitar 3×3 meter, tidak berjendela, sehingga terkesan seperti dikurung
dalam sebuah kotak korek api, dan AC-nya tidak begitu dingin. Namun karena
tuntutan karier, ya sudahlah, aku langsung menginput data ke dalam notebook
untuk diemailkan pada kantor pusat. Tak terasa, aku sudah bekerja hingga pukul
delapan malam.
Karena AC yang kurang bagus, aku merasa kegerahan dan haus.
Aku ingat, di luar bilik kecil ini, di dekat lift, ada sebuah dispenser air
minum, aku segera berdiri dan keluar dari ruang itu untuk mengambil air minum.
Ketika aku membuka pintu, aku melihat seorang pria sedang mengambil air di
dispenser itu. Nah, aku lega bahwa ternyata dispenser itu bekerja. Aku segera
menghampiri dispenser itu, mengambil gelas, dan menuangkan air ke gelasku.
Pria yang sedang minum tadi tersenyum menyapaku, aku
tersenyum balik, sekedar ramah tamah basa-basi. Pria itu berbadan besar,
tingginya sekitar 180-an lebih tinggi dariku yang tergolong jangkung. Ia tidak
terlalu kurus atau gemuk, meskipun tidak juga berbentuk seperti binaragawan.
Tubuhnya terbungkus rapi oleh kemeja Kenzo warna hijau muda dan di lehernya
terikat dasi bercorak ramai khas Gianni Versace. Wajahnya pun biasa saja,
tampang orang pengejar karir di usia pertengahan dua puluhan.
“Sedang lembur juga, Mbak?”, Tanyanya mencoba mencairkan suasana sepi.
“Iya, biasa, Mas, akhir bulan. Pas hari Jumat lagi.”
“Oh, pasti lagi nyelesaikan progress report yah?
“Iya, untung udah selesai barusan.”
“Wah, baguslah. Eh, omong-omong, Mbak kantornya di lantai
berapa?”.
“Di lantai sebelas, di PT (perusahanku). Kalau Mas?”.
“Saya di lantai delapan, di PT (perusahaannya).”
”Oh, wajarlah kalau kita nggak pernah ketemu”.
“Haha, iya, rupanya ada gunanya juga lembur. Kita bisa
saling kenal.” Pria itu berkesan begitu sopan dan ramah, matanya sedari tadi
memandang hanya ke mataku, tidak ke arah kemejaku yang dua kancing atasnya
terbuka, sehingga nampak putihnya kulit dadaku mengintip keluar.
“Oh iya, kita belum kenalan, Namaku Ditto.” Katanya sambil
mengulurkan tangannya mengajak berjabatan tangan.
“Aku Sari.” Jawabku sambil tersenyum semanis yang aku bisa.
“Sari pulang nanti naik apa?”.
“Oh, aku bawa mobil sendiri. Kalau kamu?”.
“Aku naik mobil juga.., Eh, Sari keberatan nggak kalau kita
makan malam bareng setelah ini?”.
Wah, orang ini ‘direct’ juga yah? pikirku kegirangan.
“Boleh aja, apa Ditto nggak ada yang nungguin di rumah?”.
“Ah, belum kok.” Jawabnya sambil mengerdipkan mata kiri dan
tersenyum manis.
“OK, aku akan beres-beres dulu yah!”, Kataku sambil
melangkah balik ke bilikku.
Aku segera mengemasi notebook dan kertas-kertas kerjaku
secara terburu-buru. Ada yang aneh di pikiranku. Aku merasakan ada gairah yang
mendorongku untuk berhubungan lebih intim dengan Ditto. Padahal orangnya biasa
saja, kulitnya rada gelap, rambutnya cepak, wajahnya biasa saja meski ukuran
tubuhnya memang cukup besar untuk ukuran orang sini.
Tapi cara dia bicara, cara dia tersenyum, cara dia memandang
mataku, benar-benar hangat, namun tidak nakal atau kurang ajar. Nyatanya, ia
tidak berusaha mencuri pandang ke arah yang tidak-tidak seperti pria lainnya
yang pernah ketemu aku. Hmm.. Kira-kira apakah dia ada keinginan untuk bercumbu
denganku atau tidak yaa?
Selagi aku asyik mengkhayalkannya, terdengar ketukan di
pintu.
“Masuk!” Kataku sambil berharap bahwa itu adalah Ditto.
Ternyata benar, Ditto berdiri di pintu itu sambil menenteng
tas notebook di tangan kanannya. Dasinya telah dilepas, dan kancing bajunya
terbuka yang di atasnya, sehingga nampak rambut-rambut halus di situ.
“Gimana, udah selesai?”, Tanyanya.
“Iya, udah, tapi sewa overtime nya sampai jam sepuluh nih,
jadi masih rugi kalau aku tinggalkan sekarang!” Aku mencoba mengajak bercanda.
“Haha, pelit juga kamu, Sar! Boleh aku masuk?”.
“Silakan aja, asalkan kamu nggak keburu pulang”.
“Ah, nggak kok, ini kan Jumat, biasanya juga pulang telat”.
“Biasanya kemana aja kalau Jumat malam?”.
“Paling-paling pergi sama teman-teman main badminton atau
basket”.
“Oh, seru dong? Apa sekarang nggak ditungguin
teman-temannya?”.
“Ah, mendingan juga di sini nemenin. Sekali-kali boleh kan
ganti suasana?”Kami kembali tertawa-tawa.
Ia duduk di meja kerja, sementara aku duduk di kursi kerjaku
yang tadi.
“Wah, panas sekali di sini.., AC-nya kurang bagus yah?”
Katanya sambil menggulung lengan bajunya ke atas, dan membuka satu lagi kancing
baju di dadanya. Aku menahan diri untuk tidak melihat ke arah rambut-rambut di
dadanya.
“Sar, kamu nggak panas pakai blazer di ruang kaya gini?”
Tanyanya dengan nada yang terkesan wajar, meski mungkin saja tujuannya nakal.
“Well, sebenarnya iya sih.., boleh nggak aku copot
blazernya?”
“Hahaha, kok pakai minta izin segala sih? Memangnya aku Papa
mertua kamu?”.
Humornya membuatku tertawa geli, tapi juga sekaligus
membuatku ingin berbuat lebih jauh dengannya. Maka aku berdiri dari kursi, dan
melepaskan blazerku dengan gaya yang aku buat-buat agar nampak seksi. Aku
menunggu apa reaksi dia kalau dia melihat bahwa ternyata kemeja yang aku
kenakan ini tidak berlengan, sehingga kehalusan bahuku bebas dilihatnya.
“Wah, ternyata nggak ada lengannya toh?, Bisa-bisa nanti
orang hanya menempelkan selembar kain saja di bawah blazer”. Candanya
mengomentari.
“Sialan, aku kira kamu akan bilang aku seksi, Dit!”, Jawabku
menggoda.
“Hah? wah, kalau itu sih.., apa kamu masih kurang yakin?
sampai-sampai aku perlu meyakinkan diri kamu lagi?”
“Hihihi, ada-ada saja. Tapi thanks lho!”, Kataku sambil
mengerdipkan mata.
Lalu dengan gaya yang kocak ia menceritakan bahwa seorang
pialang saham ulung akan lebih merasa tersanjung bila dipuji atas kepandaiannya
memasak daripada atas kepiawaiannya menganalisis saham. Wow, aku jadi merasa
tersanjung juga karena itu berarti dia mengakui keindahanku.
Tiba-tiba dia berkata lagi, “Kamu nggak minta dipijitin
sekalian, Sar? Kan kalau di film-film semi, adegan cewe buka blazer dilanjut
dengan adegan pijit itu trus berlanjut dengan adegan yang biasanya disensor?”.
Ya ampun.., caranya begitu jantan sekali dan sama sekali
nggak kurang ajar.., Aku jadi luluh juga dibuatnya, dan aku jadi rela untuk
menyerahkan tubuhku padanya.., meski sebenarnya akulah yang menginginkannya.
Aku segera menjawab, “Terserah deh, tapi nggak usah disensor
juga nggak apa-apa kok”.
“OK deh, itu berarti adegan yang disensor itu bisa aja
dilakukan nanti?”Katanya, sambil berdiri di belakang kursiku dan mulai memijit
bahuku.
Kami terdiam sejenak, ia memijit bahuku lewat kemejaku.
Rasanya mantap juga, tapi tali bra yang kukenakan terasa menyakitkan sedikit.
Dan dia bukannya tak tahu itu, ia menyingkapkan kemeja tanpa lenganku ke bawah,
sehingga kini pundakku terpampang di hadapannya.
“Huh, tali ini menggangguku memamerkan keahlianku memijit!”
Katanya sambil menyingkirkan tali bra ku ke samping, aku jadi merasa begitu
seksi, ditelanjangi perlahan-lahan seperti ini membuat pikiranku jadi aneh-aneh.
“mm.., nikmat sekali Ditt..”, Kataku sambil menikmati
pijitannya yang memang nikmat dan membuatku menggeliat-geliat sedikit.
Tangannya dengan mantap memijiti pundak dan leherku,
membuatku merasa begitu rileks, dan terus terang saja.., terangsang. Tiap kali
jemarinya yang hangat itu menyentuhku, rasanya begitu nikmat hingga aku
mengerang keenakan.
“mm.., mm.., aduuh, enaknyaa.., boleh juga tangan kamu,
Dit!”
“Eh, rintihannya jangan dibuat-buat gitu dong! Nanti aku
jadi ingin mijit bagian yang lain!”. Ia membuatku jadi makin terangsang dengan
pilihan katanya yang selalu di luar perkiraanku.
“Berarti kalau aku merintih-rintih yang dibuat-buat, kamu
pijit bagian yang lain yah?”
“OK! Setuju!” Candanya dengan nada seperti orang sedang
rapat kampung. “Aahh.. mmhh.., Ohh..” Rintihku aku buat-buat sambil bercanda.
Tiba-tiba tangannya langsung turun meremas kedua payudaraku
yang masih terbungkus bra itu. Tangannya diam di situ, dan dia bilang, “Tuh
kan? apa aku bilang? kalau kamu buat-buat gitu, tanganku jadi memijit bagian
yang lain!” Katanya sambil bercanda.., padahal aku sudah mabuk kepayang dan
ingin tangannya segera meremas kedua payudaraku.
“Udahlah Dit.., sekarang kita mulai aja deh”, Kataku dengan
nada serius.
“Baiklah, Saya juga ingin melakukannya sejak tadi, kalau
kamu yang minta oke lah!”, Katanya.
Ia pun langsung menurunkan bra-ku ke bawah, hingga kedua
susuku kini terbuka lebar. Ia memutar kursiku hingga kami kini berhadapan. Ia
berlutut di depanku, matanya menatap mataku yang telah sayu terlanda birahi.
Aku menggerakkan tanganku untuk melepas kacamata minusku, namun ia
menghalanginya.
“Nggak apa-apa, Sar.., Aku senang melihat kamu dengan kaca
mata itu.., seksi sekali!” Katanya sambil mengedipkan mata kiri.
Tanpa banyak kata, ia lalu memajukan kepalanya dan mengulum
bibirku, aku terpejam ketika merasakan lidahnya menerobos mulutku. Aku agak
terkejut ketika ia melepaskan bibirnya dari bibirku. Belum sempat aku membuka
mata, aku sudah merasakan jilatan lidahnya membasahi leherku yang jenjang,
merambat menyusuri bahuku.., hangat sekali rasanya.
“Nngg..”, Aku mulai merintih pelan sambil menengadahkan
kepalaku. Sementara lidahnya melingkar-lingkar mengolesi leherku, turun ke
belahan dadaku.., menari-nari di situ.., uhh.., aku semakin tak karuan rasanya.
“Augh, cium yang aku mesra..!” Aku meracau tak karuan.
“Wah.., ketahuan nih, udah pengen yaa?”, Godanya nakal. Aku
sudah kesetanan, segera kudekap kepalanya dan kutarik mendekati dadaku, dan
kubusungkan kedua dadaku agar ia segera mengulum puting susuku.
Dia malah berkata lagi, “Iya, iya aku tahu maksudnya kok..,
sslurp”.
“Uhgkk”, Mulutnya menangkap puting susuku yang kanan,
lidahnya menjilat-jilat lembut, aduuh.., rasanya gelii dan nikmaat sekali..,
aku menggelinjang-gelinjang menahan geli yang luar biasa, lidahnya seperti
melingkar-lingkari puting susuku dengan cepat namun lembut. Begitu gelinya
hingga punggungku terlepas dari sandaran kursi dan melengkung seperti busur
panah
Kini lidahnya berpindah ke puting susuku yang kiri,
mengait-ngaitnya.., Aduuhh aku semakin lupa daratan, Aku nggak tahu kenapa,
tapi jilatan Ditto rasanya begitu berbeda, benar-benar membuatku seperti
melayang-layang kegelian, rasanya seluruh badanku kehilangan energi.., lemas
sekali, tapi terasa nikmaat sekali. Puting susuku yang kanan kini
dipilin-pilinnya.
Uhhff.., Kedua puting susuku yang sensitif ini menjadi
bulan-bulanan mulut rakus Ditto, aku merintih dan mengerang sebisaku,
keringatku mulai menetes, rasanya sulit sekali untuk bernafas teratur, tiap
kali menarik nafas selalu terhenti oleh rasa geli yang menyengat puting susuku.
Tiba-tiba ia berhenti. “Sar, naik ke meja dong?”, Katanya sambil mendirikan tubuhku. Karena sudah terangsang tak karuan, aku menurut saja ketika ia menelentangkan tubuhku di meja kantor, kemejaku telah terbuka kancingnya, namun ia tidak melepasnya, hanya menyingkirkan ke kiri kanan. Aku sempat tertegun melihat kemeja Ditto masih tampak rapi, hanya celananya saja yang terlihat menonjol karena desakan kejantanannya.
Aku tertegun juga ketika melihat kedua pentil susuku
terlihat kemerahan, berdenyut denyut dan mencuat tinggi sekali. Aku segera
kembali terpejam ketika mulut rakusnya kembali menyerang kedua susuku.
Puting-putingku dijilat, dihisap, digigit, dan aku tak tahu diapakan lagi..,
rasanya luar biasa geli dan nikmat. Aku hanya bisa telentang di meja itu sambil
terengah-engah dan menggelinjang menahan serbuan birahi.
“Ahhkk.., sshh.., mmh..”, Aku mendesah dan meracau tak
karuan. Sementara tangan kananku mulai gatal dan menyusup kebalik rok mini dan
celana dalamku, menggosok-gosok bibir kelaminku yang rupanya telah lembab dan
basah sekali dari tadi.
Kini Ditto memilin-milin kedua puting susuku dengan
jari-jarinya, dan lidahnya menyusuri perutku yang langsing, menjilati pusarku.
Lidahnya mendarat di tempat-tempat tak terduga yang memberiku sensasi yang luar
biasa selain pilinan jarinya pada puting susuku. Paha bagian dalamku tak luput
dari jilatan-jilatannya yang mesra dan buas.
Disingkapkannya rok miniku ke atas, lalu jemarinya kembali
ke puting susuku seolah tak membiarkan mereka istirahat. Digigitnya karet celana
dalamku, secara refleks aku merapatkan kaki dan mengangkat punggungku agar ia
mudah melepaskannya. Aku tak tahu diapakan, tapi celana dalamku segera lepas.
Secara sukarela aku mengangkangkan kedua tungkaiku lebar-lebar agar ia bisa
memandangi kewanitaanku yang telah membanjir karena ulahnya.
Ditto melepaskan kedua putingku, lalu menekan pahaku keluar,
agar ia lebih bebas lagi memandangi kewanitaanku. Aku hanya terengah-engah
memandangi langit-langit dalam keadaan terangsang sekali. Akhirnya aku mampu
menarik nafas panjang, karena kedua putingku tak lagi menerima sengatan birahi
darinya. Tapi tiba-tiba kurasakan hawa dingin di kewanitaanku, ia
meniup-niupnya, memberiku rasa geli yang aneh.., membuatku semakin tak tahan
lagi, ingin ia segera menancapkan kejantanannya ke tubuhku.
“Ohh.., cepatlahh Dittoo.., ayo.., kamu hebat.. deh!”.
“Sar.., badan kamu indah sekali.., luar biasa.., cantik
sekali”.
“Please, lakukan sesuatu..” Aku merintih memintanya segera
menyelesaikannya.”Ahhgg..”, Aku menjerit dan menggelinjang hebat ketika
lidahnya tiba-tiba menyayat clitorisku dengan cepat dan tajam. Lalu
kewanitaanku seperti diselimuti oleh sesuatu yang basah, panas, dan lunak,
terhisap-hisap, dan clitorisku tersayat-sayat oleh sesuatu.
Karuan saja aku makin tak tahan, menggeliat-geliat tak
karuan, punggungku terangkat-angkat dari meja itu, mataku tak mampu kubuka,
nafasku kian terasa berat, rasanya gelii sekali.., nikmat tak terkira, “Oohh..,
Dittoo.., uuhh.., enaak sekalii.., sshh.., kamu apain akuu.., aduuhh”.
Rintihanku kian tak terkendali, aku segera memlintir-mlintir
kedua puting susuku untuk menambah kenikmatan, meremas kedua susuku yang
kenyal, sementara Ditto tak henti mengirimkan kehangatan birahi lewat bibir
kewanitaanku. Jilatan dan hisapan mulut Ditto kian buas menerpa kewanitaanku.
Apalagi ketika jarinya ditusukkannya ke dalam liang kewanitaanku, dan
menari-nari di dalamnya.., Aduuh.., benar-benar tak terperi nikmatnya.
Tusukan jari Ditto menyentuh tempat yang tepat..,
berkali-kali.., Aduhh.., terasa seluruh energiku seperti terhisap ke tempat
itu.., terkumpul di situ.., lalu meledak.
“Aahhgg Dittoo.., uhh..”, Aku segera mencapai klimaks.
Orgasme yang luar biasa sekali.., merenggut sebagian kesadaranku.., hingga kini
aku terkulai lemas. Aku mencoba mengatur nafas.., tapi sia-sia.., kenikmatan
ini benar-benar membuatku terbang melayang. Aku terpejam, merasakan nikmatnya
diriku terombang-ambing ke alam tak sadar.., menggumam.
“mmhh.., Ditto.., nikmat sekali.., hh”.
“Sari, mau istirahat dulu?”.
“Ngghh.., nggak.., langsung aja, goyang yang cepat!
sekarang!”, Aku tak mampu mengontrol pilihan kataku lagi, birahiku telah
menguasai diriku.
“Well, baik kalau begitu..”, Itu kata terakhir yang kudengar
dari Ditto, lalu sambil hanya dapat memandangi langit-langit aku merasa pahaku
dikangkangkan, tiba-tiba.., sspp.., Kejantanannya mengisi tiap rongga di liang
kewanitaanku ini.
“Aduuhh.., Ohh.., terusin sayangghh.., deeper..”, Aku
merintih tak karuan ketika ia mulai menggerakkan tubuhnya. Ia berdiri sementara
aku telentang di meja, jelas ia sangat leluasa menggerakkan tubuhnya,
kejantanannya terasa menyodok dan menggerus-gerus seluruh bagian dalam
kewanitaanku dengan buas dan garangnya.
Aku tak mampu bergerak membalas karena masih lemas oleh
orgasme yang pertama tadi.., namun persetubuhan ini rasanya lebih hebat lagi..,
rasa-rasanya seluruh tubuhnya memasuki liang kewanitaanku, aku hanya memejamkan
mata, menggeliat, merintih. “Uhh..”. Sodokan-sodokan kejantanannya terasa kian
dalam menerobos dasar kewanitaanku telapak-telapak tangannya yang kasar tak
henti meremas dan memegang kedua susuku.
Beberapa menit kemudian, Ditto tiba-tiba menarik
kejantanannya dari kewanitaanku, lalu dengan begitu cepat membalikkan tubuhku
hingga kini badanku tengkurap di meja, namum kakiku menjuntai ke lantai, puting
susuku terasa geli merasakan dinginnya meja kantor itu, aku hanya terengah.
Ditto menikamkan kejantanannya lagi ke lubang kewanitaanku
dari belakang.., “Uffhh..”, sensasi yang berbeda lagi.., ia mengocok tubuhku
keras sekali hingga meja itu bergoyang-goyang, saat itu juga, aku merasakan
klimaks menyambar tubuhku.., kewanitaanku serasa mengejang, menggigit
kejantanan Ditto, kedua tanganku mencengkeram ujung meja kuat-kuat, tubuhku
menegang, dan aku merasakan adanya gelombang kenikmatan yang menyapu jiwaku,
merenggut tenagaku, aku menjerit tertahan “Ahkk!”. Lalu aku merasakan nikmat yang
luar biasa dan tubuhku serasa lemas sekali.
“Aduuh.., Ditt.., Enakk sekali.., hh”.
“Tahan sebentar, ya Sari.., bisa kan?”, Jawabnya sambil
mempercepat gerakannya.
“Ahhkk.., sakit.., pelan-pelan dongg..”, Kewanitaanku terasa
ngilu.
“Sebentar saja yang.., sebentaar lagii”.
“Ohh.., Uhhg.., Ngg..”, Aku mengerang-erang menahan ngilu,
namun rasa sakit itu tak bertahan lama ketika tiba-tiba kehangatan kembali
mengalir lewat kewanitaanku. Aku serasa melambung lagi oleh orgasme yang
ketiga, ketika sperma Ditto menyembur menghangatkan sudut-sudut liang
kewanitaanku. Kali ini, kenikmatan itu mengantarkanku ke alam tak sadar untuk
beberapa saat.
Cukup lama aku tertelungkup di meja itu, terengah-engah,
dibanjiri keringat, lemas sekali seperti setengah pingsan. Yang dapat kurasakan
hanya rasa nikmat dan kepuasan tiada tara, aku sempat melihat Ditto melemparkan
tubuhnya ke kursi kerja, lalu memejamkan matanya.
Baca Juga : Pengalaman Ngentot Pertamaku
Beberapa saat kemudian, aku tersadar. Dengan sisa tenagaku
aku mencoba berdiri dan merapikan kemejaku yang telah kusut tak karuan karena
habis bersetubuh tanpa melepaskan pakaian. Tak kukenakan kembali celana dalamku
karena telah sedikit basah oleh cairan kenikmatanku ketika foreplay tadi.
Kukenakan kembali blazerku, kulihat Ditto sedang berdiri
bersandar di pintu tanpa ada kusut sedikitpun di kemejanya, namun wajahnya
tampak berseri-seri.
“Sari, udah jam sepuluh seperempat!”.
“Iya, sudah waktunya pulang nih”.
“Nah, dengan begini kamu nggak rugi kan?”.
“Apanya yang nggak rugi?”.
“Kan bayar sewa ruang overtimenya sampai jam sepuluh!?”.
Kami tertawa-tawa lagi. Lalu berjalan menuju tempat parkir
mobil kami di lantai lima. Di lift, sebenarnya ingin juga sekedar berpelukan
atau berciuman, tapi sayang sekali satpam gedung ikut berada di lift, senyam
senyum memandangi wajah-wajah kami yang kusut meski berseri-seri. Semenjak itu,
aku masih beberapa kali lagi melakukannya dengan Ditto, sampai ia dipindah
tugaskan menjadi kepala pemasaran di daerah lain. Dan aku?
Well.., Ia memang luar biasa, tapi availability ialah
segalanya, bukan? Aku kembali mengejar karier, sambil bertualang dari satu
pelukan ke pelukan lain para pria (dan kadang-kadang wanita) yang aku taklukkan
dengan tubuhku.

0 Komentar